Bibit Mati, Petani di Gunungkidul Terancam Rugi

Sakino, petani asal Dusun Kenis, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, menunjukkan benih jagung yang ditanam yang gagal tumbuh lantaran menghilangnya hujan dan cuaca yang sangat panas, Senin (2/12/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
02 Desember 2019 22:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hujan yang menghilang membuat sejumlah petani di Gunungkidul terancam merugi. Sejumlah benih tanaman pertanian yang ditanam rusak dan tak bisa tumbuh. Bahkan beberapa tanaman yang mulai tumbuh, kini layu bahkan mati.

Di Dusun Kenis, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, sejumlah petani harus memutar otak untuk menyiasati agar bibit jagung yang ditanam bisa tetap bertahan.

Sakino, 47, petani asal Dusun Kenis menduga tanaman jagung miliknya gagal tumbuh maksimal lantaran menghilangnya hujan dan cuaca yang sangat panas. Ia menjelaskan bibit jagung yang dia tanam tidak kuat bertahan di tanah yang kering dengan cuaca yang cukup panas. "Bibit jagungnya gagal tumbuh karena tanah kering oleh sinar Matahari," kata Sakino saat ditemui Harian Jogja, Senin (2/12/2019).

Sakino mengungkapkan dirinya mulai menanam benih jagung saat hujan turun pertama di awal November. Ia menargetkan waktu tersebut merupakan waktu yang paling tepat, karena diprediksi hujan bakal terus turun. Namun perkiraan para petani meleset. Hujan hanya turun sekali dan hingga kini tak kunjung turun. Akibatnya, benih yang ditanam di lahan pertanian seluas 300 meter persegi miliknya gagal tumbuh. Jika ada yang tumbuh, maka langsung layu dan mati.

Sakino mengaku saat ini sudah tak memiliki stok benih. "Mau tidak mau harus mencari dana buat beli bibit, kalau bibit bantuan dari pemerintah yang disalurkan melalui kelompok tani sudah habis," ujarnya.

Ia mengaku selain rugi karena bibit yang ditanam gagal tumbuh, para petani juga rugi tenaga. Menurutnya, hal tersebut merupakan konsekuensi seorang petani. Saat ini, tinggal bagaimana langkah selanjutnya untuk bisa mengisi lahan miliknya itu. "Sekarang tinggal berharap pada tanaman ubi kayu dan sedikit sisa bibit jagung. Kami berharap hujan segera turun," tuturnya.

Nasib serupa juga dialami Pardiyem, 49, petani asal Dusun Jimatan, Desa Purwodadi, Kecamatan tepus. Bibit jagung dan kacang yang sudah ditanam gagal tumbuh, sehingga ia harus memutar otak untuk mencari bibit lain. "Saat ini masih menunggu hujan turun," tuturnya.

Kabid Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengungkapkan jajarannya terus memantau dan mengamati curah hujan di masing-masing wilayah. DPP, menurut Raharjo, sudah memetakan wilayah mana saja yang mengalami keterlambatan hujan turun. "Untuk zona utara sudah aman, zona timur belum ada laporan dan zona selatan hujan turun belum merata," ujarnya.

Jika mengacu pada prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta, hujan diprediksi turun pada dasarian pertama Desember. Dia berharap hujan bisa turun secara merata di Desember.

Untuk penyaluran benih kepada petani, Raharjo mengaku jajarannya telah menyalurkan seluruh persediaan bibit. Penyaluran bantuan benih terakhir dilakukan 3 November. "Pemantauan juga dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman bagi yang sudah tebar benih dan tertinggal hujan," ujarnya.