Strok Bisa Dicegah dengan Cerdik

Dokter spesalis syaraf Rizaldy Taslim Pinzon saat jadi pembicara dalam Jangan Ada Stroke di Antara Kita di SMA Kolese de Britto, Sleman, Sabtu (7/12/2019). - Istimewa/Panitia Reuni SMA Kolese de Britto Angkatan 94++
09 Desember 2019 10:37 WIB Sugeng Pranyoto Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Strok merupakan penyebab kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2013, strok menjadi penyebab kematian nomor satu di seluruh rumah saikit di Indonesia. Bahkan, di dunia satu di antara enam orang menderita strok.

Dokter spesialis syaraf RS Bethesda Jogja Rizaldy Taslim Pinzon menyatakan faktor utama risiko strok adalah hipertensi. Sebanyak 70% pasien strok terkait dengan tekanan darah tinggi. Selain itu juga diabetes dan merokok jujga bisa menjadi faktor. “Merokok bisa meningkatkan risiko strok dua sampai tiga kali lipat. Risiko akan berlipat bila ada faktor lain,” kata Pinzon dalam acara seminar bertajuk Jangan Ada Stroke di Antara Kita yang digelar Panitia Reuni SMA Kolese de Britto Angkatan 94++ di SMA de Britto, Sleman, Sabtu (7/12/2019).

Dia menyatakan strok sebenarnya terjadi karena akumulai faktor risiko. Namun strok dapat dicegah dan diobati. Caranya dengan mengenali faktor risikonya dan kendalikan seoptimal mungkin. Pria yang juga menjadi dosen di Fakultas Kedokteran UKDW tersebut menyatakan strok sebenarnya bisa dicegah. Pinzon memberikan tips pencegahan strok itu dengan istilah Cerdik. “Cerdik itu kependekan dari cek kesehatan rutin, enyahkan rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup dan kelola stres,” kata pria kelahiran Samarinda tersebut.

Dalam kesempatan itu, Pinzon mengatakan seseorang yang terkena strok dapat dikenali. Menurut Pinzon, bila mencurigai ada seseorang yang terkena stroke harus segera dibawa ke rumah sakit. “Waktu empat setengah jam setelah serangan menjadi krusial, dan harus segera dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Seseorang terkena serangan strok bisa dilihat dari senyumnya yang tidak simetris, gerakan anggota tubuh lemah, bicara tidak jelas, kesemutan separuh badan, rabun mendadak dan sakit kepala hebat. “Tanda-tanda itu semua terjadi secara tiba-tiba,” katanya.

Acara yang diikuti 100 orang lebih itu juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan itu merupakan rangkaian acara reuni alumni SMA Kolese de Britto yang puncaknya digelar pada Jumat (27/12/2019).