Bupati dan Pendeta GPdI Sedayu Berdamai, Warga Bersyukur

Bupati Bantul Suharsono (dua dari kanan) dan Tigor Yunus Sitorus (tiga dari kanan) menandatangani kesepakatan damai di ruang Bupati Bantul, Rabu (8/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
08 Januari 2020 19:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pendeta asal Bandut Lor, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Tigor Yunus Sitorus sepakat berdamai dengan Bupati Bantul Suharsono. Setelah resmi mencabut gugatannya kepada Bupati di Pengadilan Tata Usaha Negara, pendeta yang didemo warga lantaran hendak membangun gereja di rumahnya itu bersedia menandatangani surat kesepakatan damai dengan Bupati, Rabu (8/1/2020).

Ketua RT 34 Bandut Lor, Syamsuri, mengapresiasi adanya kesepakatan damai antara Pemkab Bantul dan pendeta Tigor Yunus Sitorus. Dia mendukung Sitorus mendirikan gereja sendiri di lokasi yang baru.

Menurut dia, warga selama ini sebenarnya tidak mempersoalkan adanya pembangunan gereja. Masyarakat, kata dia, hanya tak sepakat jika rumah Sitorus dijadikan tempat ibadah. “Terimakasih kepada Bupati Bantul dan bapak Sitorus. Dengan kesepakatan ini kami dari warga merasa lega,” kata dia seusai mengikuti pendadatanganan kesepakatan antara Pemkab Bantul dan Pendeta Sitorus di Ruang Bupati Bantul, Rabu (8/1).

Dia juga memastikan sejumlah spanduk-spanduk yang menempel di rumah Sitour maupun jalan masuk kampung Bandut Lor, Argorejo, Sedayu.

Ditemui seusai penandatanganan, Sitorus mengaku tetap membangun gereja, hanya tempatnya dipindah di lokasi lain yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Dia pun meminta Pemkab Bantul melaksanakan komitmennya untuk menjamin pendirian gereja itu tak akan dipermaslahkan lagi.

Sitorus mengaku pencabutan gugatan tersebut murni atas keinginan kedua pihak dengan berbagai pertimbangan, di antaranya untuk menjaga suasana di Bandut Lor, tempat dia tinggal agar kembali kondusif. Lagipula, kata dia, jemaatnya juga membutuhkan rumah ibadah yang aman dan nyaman.

“Kalau dilanjutkan [proses penyelesaian hukum di PTUN] bisa-bisa tak kondusif, bagi kami juga kurang nyaman. Demi kenyamanan di Bantul, dan kenyamanan kami di gereja, kami menempuh jalur itu [damai],” kata Sitorus seusai pendatanganan kesepakatan damai dengan Bupati Bantul Suharsono di ruang Bupati Bantul, Rabu.