Klithih Merajalela di DIY, Ini Cara Sri Sultan Membereskannya

Sri Sultan HB X - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 Januari 2020 17:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAKlithih atau kekerasan jalanan yang melibatkan remaja maupun pemuda merajalela di DIY dalam beberapa waktu terakhir.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan persoalan itu tidak bisa hilang apabila akar masalah di lingkungan keluarga tidak ditangani. Pemda DIY akan membentuk kelompok kerja (pokja) yang bisa menguatkan ketahanan keluarga guna mengurangu klithih.

Sultan mengatakan belum lama ini Pemda DIY sudah membahas problem ini dengan melibatkan berbagai pihak. Dari hasil pertemuan itu, ia menilai persoalan klithih berakar dari masalah keluarga. Musababnya, mayoritas pelaku kekerasan adalah anak yang dari keluarga bermasalah sepert broken home. Pokja dianggap sebagai salah satu cara ampuh untuk menangkal berulangnya klithih.

“Kami baru membuat konsep, strukturnya kira-kira bagaimana, bagi saya ini bagian dari yang dimaksud keluarga tangguh [ketahanan keluarga]. [Dari pembahasan] Kemarin kami sepakat masih ada pembicaraan sebulan lagi, bagaimana caranya kita membangun dialog dengan orang tua dari anak-anak,” kata Sultan saat diminta komentar mengenai maraknya klithih, Senin (13/1/2020).

HB X mengatakan kekerasan jalanan didominasi pelajar, tetapi sekolah bukan akar permasalahan. Sultan mengatakan kemungkinan anak tidak nyaman di dalam keluarga hingga kemudian keluar rumah untuk mencari pelampiasan.

“Itu bukan masalah di sekolah mungkin masalah di kehidupan keluarga, siapa tahu dia [pelaku] sebetulnya tidak merasa nyaman tinggal di rumah kan juga bisa. Kekerasan itu dilakukan karena pelarian juga bisa, dia minum minuman keras sebagai pelarian juga bisa karena mungkin enggak tahan di rumah,” ujarnya.

Mengatasi persoalan di keluarga sangat penting karena hukuman kepada pelaku klithih terbukti belum mampu menyelesaikan masalah.

“Persoalan seperti itu kan perlu dialog. Persoalannya apa, nanti waktu kami bertemu mereka [keluarga pelaku klithih], [kami tanyakan] apa yang bisa kami lakukan. Mungkin motifnya berbeda-beda, tetapi dari hasil penelitian psikolog, mayoritas [pelaku berasal dari] kehidupan rumah tangga broken home, kami coba [tangani] sebelum telanjur. Tidak hanya [penanganan] kulit tetapi kami berharap bicara [penanganan] pada isi. Kalau kulit ya dengan tindakan itu menyelesaikan masalah, tetapi selama keluarga itu tidak pernah diutuhkan kembali, selama itu juga kita akan ada masalah [klithih],” ujar Sultan.

HB X mengatakan dialog di keluarga saat ini sangat minim karena pengaruh teknologi. Dahulu sebelum ada gadget, orang tua bisa berdialog dengan anak pada saat di meja makan, tetapi saat ini jarang bisa dilakukan. “Kalau kita makan siang atau makan malam, makan pagi mungkin dengan anak cucu bisa dialog, tetapi sekarang kita makan, anaknya semua pada pegang HP. Akhirnya duduk sambil makan dalam keadaan diam, itu kan perubahan yang luar biasa dalam pendidikan keluarga,” katanya.