Baru Awal Tahun, Satu Warga Sleman Meninggal Dunia karena Leptospirosis

Ilustrasi leptospirosis, - JIBI
20 Januari 2020 16:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sebanyak dua orang pasien sakit dan satu orang meninggal karena bakteri leptospirosis dalam kurun waktu dua minggu di awal 2020.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Sleman mencatatkan ada 31 kasus penyakit leptospirosis dengan korban meninggal sebanyak tiga orang di tahun 2019.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Novita Krisnaeni mengatakan dalam kasus ini korban meninggal adalah seorang pedagang di salah satu pasar di Kecamatan Depok. Sejauh ini, menurut Novita leptospirosis kebanyakan mengancam petani yang bekerja di sawah.

"Kedua pasien kini dalam kondisi membaik. Tikus tidak hanya di sawah tapi juga ada di pemukiman penduduk, di selokan bahkan juga di pasar. Pasar juga berisiko terkena air kencing tikus," ujar Novita, Senin (20/1/2020).

Leptospirosis, lanjut Novita, berpotensi menyerang petani, karena tikus banyak berada di persawahan. Seperti kasus leptospirosis yang terjadi di Prambanan pada tahun lalu, korban tertular melalui jerami yang terpapar kencing tikus. "Petani diharapkan pakai peralatan seperti sarung tangan ataupun sepatu bot saat bekerja," terangnya.

Novita menambahkan, pencegahan penyakit leptospirosis dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Contohnya, dengan membiasakan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar ruangan. Terlebih saat musim hujan, penyakit ini dapat dengan mudah menyebar karena genangan air.

"Bakteri penyebab leptospirosis biasanya masuk ke dalam tubuh manusia lewat luka. Tapi juga bisa melalui mukosa, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Setelah bepergian cuci tangan pakai sabun, termasuk membersihkan badan, apalagi setelah belanja di pasar," terangnya.