Dua Pimpinan Media Massa Disebut Terlibat Pelengseran Gus Dur

Penulis buku Menjerat Gus Dur, Virdyka Rizky Utama (ketiga dari kanan) seusai bedah buku Menjerat Gus Dur di FIS UNY, Senin (20/1).-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
20 Januari 2020 19:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dua pimpinan media massa diduga turut berperan dalam penggulingan mantan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Hal itu terungkap dalam acara Bedah Buku Menjerat Gus Dur yang diadakan Lingkar Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY, Sleman, Senin (20/1/2020).

Penulis buku Menjerat Gus Dur, Virdyka Rizky Utama, menyatakan kedua nama pimpinan media massa tersebut ada di dalam dokumen setebal 12 halaman yang sebelumnya ia temukan dan menjadi fakta utama penulisan buku. Arsip tersebut ditemukannya di kantor DPP Partai Golkar, pada awal Oktober 2017. Ketika itu ada renovasi kantor DPP Partai Golkar. Dokumen rahasia itu menyeret nama-nama besar dalam pelengseran Gus Dur dari kursi Presiden pada Juli 2001.

Lebih lanjut ia menjelaskan kedua orang dari media massa itu adalah Parni Hardi dari Republika dan Surya Paloh dari Metro TV. Pemberitaan yang dibuat oleh dua media itu tentang skandal Buloggate dan Bruneigate, hingga berujung pemakzulan terhadap Gus Dur.

"Bisa dilihat kok dari headline-headline dari kedua media itu, bagaimana setiap bulannya headline yang ditulis memuat tentang itu [upaya pelengseran]," kata mantan jurnalis Gatra tersebut, Senin.

Menurutnya Parni Hardi pada saat itu dipecat oleh Gus Dur ketika menjabat sebagai Direktur Kantor Berita Antara milik pemerintah. Ia juga dianggap dekat dengan petinggi dari Partai Golkar.

"Kalau untuk Surya Paloh bisa dilihat di buku karya Andreas Harsono berjudul Hari-Hari Terakhir Gus Dur di Istana Rakyat. Dalam buku itu dikatakan bagaimana framing atau pengemasan berita yang dibuat Metro TV yang mendukung pelengseran Gus Dur," kata dia. 

Dalam dokumen yang ia temukan juga disebutkan media massa yang mendukung Gus Dur adalah Kompas dan Suara Pembaruan. Meski demikian, isu soal dukung mendukung oleh media terhadap pelengseran maupun yang tidak setuju terhadap penggulingan Gus Dur di dalam dokumen itu tidak ia masukkan ke buku yang dia tulis. 

"Karena fokus utama buku saya adalah bagaimana skenario pelengseran Gus Dur di parlemen dijalankan," jelas dia.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Profesor Purwo Santoso, mengatakan bedah buku ini sebagai literasi politik untuk masyarakat tentang reformasi tidak seindah yang diceritakan. "Banyak skenario yang diungkap dalam buku itu," kata dia.

Literasi politik melalui buku yang ditulis oleh kalangan milenial yang dinilai terbebas dari doktrin senior kepada juniornya. "Caranya adalah dengan liputan investigasi," papar dia.