Terdampak Antraks, Pendapatan Pedagang Bakso Terjun Bebas

Seorang karyawan di Warung Bakso Pak Wariyun di kompleks Taman Parkir Wonosari, tengah melayani pembeli, Kamis (30/1/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
30 Januari 2020 21:17 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus antraks masih menghantui masyarakat di Gunungkidul. Sejak mencuat di awal Januari 2020, dampaknya merembet ke berbagai sektor, salah satunya sektor kuliner. Saat ini, pedagang bakso mengalami dampak penurunan omzet cukup drastis.

Salah satunya dialami Warung Bakso Pak Wariyun yang beralamat di kompleks Taman Parkir Wonosari. Pemilik usaha kuliner ini mengaku sejak kasus antraks mencuat, pendapatan terjun bebas. "Hari biasa kami bisa memperoleh pendapatan Rp3 juta sehari, tapi sejak kasus antraks muncul, memperoleh Rp1 juta sehari saja sudah bersyukur, jadi kalau ditanya penurunannya berapa, ya terjun bebas," kata istri Wariyun, Murtini, 60, saat ditemui Harian Jogja, Kamis (30/1/2020).

Adanya penurunan tersebut, kata Murtini, sudah terjadi selama dua pekan terakhir. Ia menduga kasus antraks menjadi penyebab utama. Meski demikian, masih ada segelintir pelanggan dan warga lainnya yang mau mengonsumsi olahan daging sapi tersebut. "Untungnya masih ada pelanggan yang setia membeli bakso," ujarnya.

Murtini menuturkan bakso daging yang dijualnya berasal dari pedagang daging langganannya yang bisa dipastikan menjual daging sapi sehat dan higienis. "Masyarakat takut mengonsumsi daging sapi, padahal kasus antraks hanya terjadi di Ponjong tapi dampaknya merembet ke mana-mana," kata dia.

Menurutnya, sebelum kasus antraks mencuat dia biasa membeli daging setiap hari. Namun lantaran menurunnya jumlah pembeli, dia terpaksa hanya kulakan daging dua sampai tiga hari sekali. Ia menuturkan dua cabang warung bakso miliknya yang berada di Kecamatan Karangmojo dan Semanu turut terdampak penurunan pendapatan. "Kami memiliki tiga cabang, dan semua pendapatannya turun drastis," kata Murtini.