Pedagang Pasar Kuliner Angkruksari Keluhkan Bak Sampah

Bupati Bantul Suharsono (kiri) menikmati jajanan yang dijual di Pasar Kuliner Angkruksari, Bantul, Minggu (2/2/2020) malam. - Harian Jogja/Hery Setiawan
03 Februari 2020 18:37 WIB Hery Setiawan Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Setelah resmi beroperasi selama setahun terakhir, pengadaan bak sampah di Pasar Kuliner Angkruksari, Desa Donotirto, Kecamatan Kretek Bantul, serta promosi dari Pemkab soal keberadaan pasar tersebut dinilai masih kurang.

Intriyani, salah satu pedagang Pasar Kuliner Angkruksari mengatakan selama ini sampah pasar diambil dari ember tampungan sampah oleh petugas kebersihan. Sampah-sampah itu lalu dibakar di sisi timur pasar kuliner.

Tempat sampah, kata dia, sangat penting untuk menampung seluruh sampah untuk selanjutnya bisa diambil oleh truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dengan begitu pemandangan sampah tak lagi terganggu oleh tumpukan sampah. "Yang masih kurang itu tempat pembuangan sampah, biar nanti bisa diangkut pakai truk-truk itu lho. Apalagi kalau sampai menumpuk kan bau. Kasihan pembelinya," kata Intriyani ketika ditemui sela-sela acara Penganugerahan Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Periode 2017-2022, Minggu (2/2/2020) malam.

Selain butuh tempat sampah, imbuh dia, Pasar Kuliner Angkruksari juga butuh promosi, khususnya di sektor kuliner. Sejauh ini diakui dia tidak ada papan penunjuk arah yang bisa menunjukkan keberadaan pasar beserta jenis kuliner yang dijual.

"Promosi itu penting. Biar semua orang tahu di sini [Pasar Kuliner Angkruksari] ada apa aja. Papan nama di jalan raya juga butuh. Papan penunjuk di setiap lapak biar orang tahu di situ jual apa saja," ujar Ika, penjual pisang cokelat di Pasar Angkruksari.

Meski begitu, dia tak menampik, setelah pindah dari area tepi jalan di pasar Kretek lama, dia mengaku pendapatannya terus naik. Dalam sehari, dia mengaku bisa meraup pendapatan kotor sekitar Rp1 juta. “Dulu, sewaktu masih berjualan di pinggir jalan, pendapatan saya tidak lebih dari Rp500 ribu. Sekarang sehari bisa dapat Rp1 juta, modalnya Rp700.000," ujar Intriyani.

Seperti diketahui, sejak Februari 2019, Pemkab Bantul telah meresmikan Pasar Kuliner Angkruksari. Pembangunan pusat kuliner itu sebagai bentuk upaya penataan pedagang kaki lima (PKL) berbasis kawasan.

Bupati Bantul, Suharsono mengatakan siap mengakomodasi keluhan-keluhan dari para pedagang. "Ya nanti keluhannya apa saja, tinggal diajukan ke Pemkab," katanya, Minggu.

Menurut dia PKL bisa jadi salah satu daya tarik wisatawan jika ditata dengan benar. Dia berharap ke depan pendapatan PKL bisa lebih meningkat sehingga dapat mendorong peningkatan perekonomian masyarakat.