Tak Bisa Mudik, Mahasiwa yang Terjebak di Jogja Minim Bantuan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
25 April 2020 19:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pandemi covid-19 membuat sejumlah wilayah ditutup aksesnya hingga memutus pula akses ekonomi masyarakat. Sementara masih banyak mahasiswa yang bertahan di perantauan lantaran tidak bisa mudik.

Kondisi mereka menjadi rentan karena kiriman uang dari rumah pun tersendat.

Salah satu kelompok mahasiswa yang cukup terdampak akibat pandemi ini adalah Mahasiswa Maybrat DIY. Pada Jumat (24/4/2020) lalu para mahasiswa ini sampai menggelar aksi di Asrama Mahasiswa Maarbyat DIY, Kotagede, agar Pemerintah Daerah Papua Barat memberi bantuan.

Merespons hal ini, DPW Nasdem Papua Barat pada malam di hari yang sama, mengirim bantuan logistik ke Asrama Mahasiswa Maybrat DIY. Perwakilan DPW Nasdem Papua Barat, Elna Febi Astuti, mengatakan pihaknya langsung bergerak karena saat ini Pemda Papua Barat belum bisa membantu. “Dari Pemda DIY juga belum ada bantuan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2020).

Bantuan logistik yang diberikan meliputi 100 Kg beras, tiga kardus minyak goreng, 25 Kg gula pasir, 10 kardus mi instan, 20 Kg telur, satu karton sarden dan the celup. Menurutnya, dalam situasi pandemi seperti sekarang, semua pihak harus saling membantu dan peduli pada lingkungan sekitarnya.

Ia menuturkan di Papua pada Jumat (23/4/2020) terdapat kasus positif corona sebanyak 123 kasus, meninggal tujuh kasus dan sembuh 35 kasus. Sementara di Papua Barat terdapat tujuh kasus positif dan satu meniggal. Dengan kondisi ini, beberapa Pemerintah Kabupaten dan Kota di Papua Barat mengambil kebijakan lockdown local, diantaranya Kota Sorong, Tembrauw dan Maybrat.

Ditutupnya akses di beberapa daerah di Papua Barat ini menyebabkan banyak masyarakat yang kehilangan akses ekonominya. Akibatnya mereka yang memiliki anak sedang merantau di DIY untuk belajar tidak bisa memberi kiriman uang sebagaimana mestinya.

Koordinator Umum Mahasiswa Maybrat DIY, Bartolumius Korain, mengatakan sebagian besar mahasiswa yang sedang studi di berbagai daerah saat ini tidak memiliki pekerjaan sampingan sehingga nasibmereka bergantung pada kiriman orang tua. “Kondisi ini diperparah dengan diterapkannya karantina wilayah yang mengakibatkan mahasiswa terisolasi dan sulit bertahan hidup,” ungkapnya.

Ia melihat Pemkab Maybrat yang semestinya bertanggung jawab melindungi masyarakatnya justru bergerak sangat lamban. Sebab itu pihaknya mendesak Pemkab Maybrat segera mendistribusikan bantuan ke seluruh mahasiswa Maybrat di DIY dan daerah lainnya.