Kraton Batalkan Grebeg Syawal karena Pandemi Covid-19

Warga berebut sisa-sisa gunungan di halaman masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). - Galih Yoga Wicaksono.
28 April 2020 13:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat membatalkan kegiatan Hajad Dalem Grebeg Syawal tahun ini. Peniadaan upacara tradisi tahunan setiap Idulfitri ini sebagai upaya untuk menghindari risiko penyebaran Covid-19 yang bisa terjadi dalam kerumunan.

Peniadaan Gerebeg Syawal ini disampaikan Kraton melalui akun twitter resminya @Kratonjogja, “Seiring dengan kondisi tanggap darurat Covid-19, diberitahukan bahwa Kegiatan Hajad Dalem Garebeg Sawal tahun ini yang ditandai dengan arak-arakan gunungan dan prajurit keraton yang sedianya berlangsung pada 1 Sawal Wawu 1953/1441 H ditiadakan,” tulis Kraton.

Tidak hanya Grebeg Swawal yang ditiadakan, namun tradisi Numplak Wajik yang biasa digelar beberapa hari sebelum grebeg juga ditiadakan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap risiko penyebaran virus korona yang dapat terjadi dalam kerumunan massa.

Penghageng Tepas Tandha Yekti Kraton, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu membenarkan informasi peniadaan upacara Grebeg Syawal tersebut. “Iya benar. Kraton mengurangi kegiatan yang berpotensi menyebabkan kerumunan,” kata Hayu, kepada Harian Jogja, melalui pesan singkat aplikasi Whatsapp, Selasa (28/4/2020).

Meski upacara yang identik dengan arak-arakan gunungan itu ditiadakan, namun Hayu memastikan bahan-bahan untuk gunungan tetap dipersiapkan. Hanya saja bahan gunungan tersebut akan langsung dibagikan untuk abdi dalem Kraton.

“Jadi enggak perlu nyusun bentuk gunungan, sehingga Numplak Wajik yang membuat dasaran gunungan putri juga dibatalkan,” ujar Hayu, yang juga putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas ini.

Grebek Syawal merupakan tradisi tahunan yang digelar Kraton sebagai wujud syukur karena telah melaksanakan ibadah puasa Ramadan sekaligus sebagai sedekah Raja Kraton kepada rakyatnya. Biasanya terdapat tujuh gunungan yang diarak oleh abdi dalem.

Lima gunungan di antaranya dibawa ke kompleks Masjid Gede Kauman yang kemudian diperebutkan warga dan dua gunungan lainnya dibawa ke Kepatihan atau kantor Gubernur DIY dan Puro Pakualaman.