Ini Dia Potret Nasib Buruh Gendong di Tengah Deraan Pandemi

Ilustrasi buruh gendong. - Harian Jogja
01 Mei 2020 15:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagian besar buruh gendong di Pasar Beringharjo, Kota Jogja ikut merasakan dampak pandemi Covid-19. Sepinya pengunjung pasar membuat penghasilan mereka pun seret, bahkan tak jarang mereka pulang tanpa membawa uang sama sekali.

Salah Satu Buruh Gendong Pasar Beringharjo Mursinah mengaku menjadi buruh sejak tahun 1981. Selama itu pula baru kali ini dia merasakan krisis hingga sama sekali tidak mendapatkan penghasilan.

Setidaknya selama sebulan lebih saat masa tanggap darurat pandemi Covid-19 ditetapkan di penghasilannya berkurang. Bahkan sebulan awal, dia nyaris tidak mendapatkan penghasilan lantaran sejumlah pedagang di Pasar Beringharjo banyak yang memilih tutup.

Sebelum masa pandemi, Mbah Mursinah, sapaan akrab Mursinah, mematok harga angkut gendong dengan berat sekitar 50 kilogram adalah sebesar Rp10.000. Dalam sehari, dia bisa mendapatkan antara Rp40.000 hingga Rp80.000.

Warga Dusun Mertan, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo tersebut, di usianya yang menginjak 77 tahun masih kuat mengendong beban seberat 50 kilogram sekali angkut.

Dalam kesehariannya, dia bekerja sebagai buruh gendong di Lantai III Pasar Beringharjo. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, dia tidak berani lagi untuk sering-sering naik-turun dari lantai III ke lantai I. “Kalau naik turun sudah tidak berani,” ujarnya.

Selama pandemi, imbuh dia, tak ada lagi barang milik pedagang atau pembeli yang bisa digendong. Dia hanya mengandalkan bantuan dari beberapa orang seperti pedagang yang memiliki kemampuan lebih, pemerintah hingga partai politik.

Saiki sepi [sekarang sepi], berangkatnya hanya tiga sampai empat hari sekali, berangkat kalau ada bantuan seperti ini,” katanya seusai menerima bantuan sembako dari DPD MKGR DIY dan DPD Golkar DIY di Pasar Beringharjo, Jumat (1/5/2020).

Senada, buruh gendong lainnya, Suyatni, 49, warga Dusun Disil Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo juga mengaku dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp10.000 selama masa pendemi ini, sudah ia syukuri. Untuk bisa bertahan hidup dengan keluarganya Suyatni pun mengandalkan uang tabungan serta bantuan dari berbagai pihak.

Sebelum pandemi, dia bisa menggendong antara 20 sampai 30 barang yang diorder pembeli maupun pedagang, tetapi saat ini sama sekali tidak ada pekerjaan. “Saya jadi buruh gendong sejak 1988, ini paling parah [dampaknya]. Kami selalu tombok kalau berangkat, karena harus bayar angkutan dari rumah sampai ke pasar Rp14.000 pulang pergi. Sebelumnya ada bantuan sembako dari beberapa toko, ada dari polisi juga,” katanya.

Hari Buruh

Ketua DPD Golkar DIY Gandung Pardiman menyatakan buruh gendong Pasar Beringharjo layak mendapatkan perhatian dari pemerintah di tengah pandemi corona. Karena pasar sepi mereka tidak lagi mendapatkan penghasilan.

Oleh karena itu pihaknya memberikan bantuan sembako kepada mereka bersamaan dengan Hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei. “Karena mereka ini buruh harian lepas jadi tidak ada yang memperhatikan, saya terharu, buruh gendong ini sudah banyak yang sepuh tetapi semangat kerjanya tinggi,” ucapnya.