Soal Unggahan di Medsos, Kadus Gading Kulon: Tak Ada Karantina Mandiri Sedusun

Foto ilustrasi. - Reuters
03 Mei 2020 15:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kabar seluruh warga Dusun Gading Kulon, Desa Donokerto, Kecamatan Turi sedang melakukan karantina mandiri setelah salah seorang warganya positif Covid-19 yang beredar di media sosial, dibantah kepala dusun setempat. Warga Dusun Gading hingga kini masih beraktivitas seperti biasa sesuai protokol Covid-19.

Kepala Dusun Gading Kulon Nur Whan Hidayat membantah adanya kabar seluruh warga Gading Kulon melakukan karantina wilayah setelah salah satu warganya, YS, yang positif Covid-19. "Kabar itu tidak benar. Tidak ada isolasi seluruh warga. Seluruh Warga Gading sehat," kata Nur kepada Harianjogja.com, Minggu (3/5/2020).

Meski begitu dia membenarkan salah satu warganya positif Covid-19 setelah hasil swab-nya keluar. Dari hasil tersebut, empat orang yang berhubungan langsung dengan pasien mulai dari istri, sopir, tukang cuci pakaian dan orang yang menunggu pasien di rumah sakit pun sudah menjalani rapid test.

Sejumlah warga yang dites cepat pun, lanjut Nur, tidak ada yang menunjukkan gejala reaktif. "Hasil rapid test semuanya negatif. Jadi tidak benar ada karantina satu dusun," jelas Nur.

Menurut Nur, hanya ada empat warga Gading yang saat ini melakukan isolasi mandiri karena berstatus sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Mereka adalah orang yang berhubungan langsung dengan pasien yang sudah dinyatakan positif Covid-19.

Mereka yang menjalani isolasi mandiri meliputi isteri YS, sopir, pencuci pakaian dan orang yang menunggu pasien di rumah sakit. "Ini hanya untuk mengantisipasi saja sesuai protokol penanganan Covid-19," katanya.

Selama keempat warga menjalani karantina mandiri, kata Nur, warga membantu untuk mencukupi kebutuhannya. Seluruh kebutuhan logistik tiga warga yang menjalani isolasi mandiri dipenuhi oleh warga Gading. Sementara istri YS yang tinggal sendiri di rumah hanya meminta bantuan warga Gading untuk membelanjakan kebutuhannya tanpa kontak fisik. "Istri YS, karena merasa mampu menolak bantuan logistik. Dia hanya meminta bantuan warga untuk membelanjakan kebutuhannya. Komunikasi lewat telepon, warga membelanjakan, kemudian barang yang dibutuhkan ke kirim sampai ke depan rumah," kata Nur.

Disinggung soal sumber penularan pasien Covid-19, Nur mengaku tidak tahu pasti. Pasalnya selama ini YS dirawat di rumah sakit.

Sebelum dirujuk ke RS Bethesda, YS sebelumnya dirawat di RS Panti Nugroho. Berdasarkan informasi yang dia peroleh, YS dirawat di rumah sakit karena selama ini memiliki penyakit prostat.

"Soal dari mana penularannya saya kurang paham. Setahu saya YS juga tidak keluar daerah. Sejak pandemi Covid-19 warga juga sudah melaksanakan imbauan pemerintah, pakai masker, cuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak," kata Nur.

Nur berharap warga Gading tetap mematuhi protokol penanganan Covid-19 dengan tetap memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. Dia juga mengimbau agar warga Gading tidak terpengaruh dengan kabar-kabar miring terkait masalah tersebut.  "Kepada khalayak umum kami minta untuk kroscek kebenarannya dulu. Jangan hanya copy paste lalu sebarkan," pinta Nur.

Sekadar diketahui, sebanyak enam warga Gading Kulon, Donokerto, mengikuti rapid diagnosis test (RDT) karena melakukan kontak erat dengan pasien positif Covid-19. "Mereka yang menjalani rapid test merupakan keluarga, saudara, dan kerabat korban kasus positif Covid-19. Hasilnya negatif semua," kata Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sleman Joko Hastaryo.

Rapid test dilakukan hanya terhadap individu yang pernah memiliki riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19. Hal itu sesuai dengan protokol penanganan Covid-19.

"Kalau dari rapid test ada yang reaktif baru dilakukan pengembangan tracing dan RDT lanjutan. [Di Turi] masih generasi pertama karena diduga ada riwayat bepergian ke area terjangkit," katanya.