Kanwil DJPb DIY Dampingi KUBE Kulonprogo di Tengah Pandemi

Kegiatan rapat pendampingan KUBE. - Ist/DJPb DIY.
01 Juni 2020 09:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kepala Kanwil DJPb DIY Heru Pudyo Nugroho menuturkan penyebaran pandemi Covid-19 menyebabkan dampak ekonomi di segala bidang termasuk untuk para pelaku UMKM dan usaha ultra mikro terutama sektor pariwisata dan penyediaan akomodasi dan makan minum.

Pihaknya berkomitmen meningkatkan peran dalam memberikan dukungan dan memfasilitasi pembiayaan melalui pembiayaan ultra mikro maupun pendampingan usaha secara langsung bagi sektor-sektor usaha produktif di tengah pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Heru Pudyo Nugroho dalam sambutan Kegiatan Zoom Meeting Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pendampingan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Kamis (28/5/2020) di Ruang Rapat Lantai 2, Kanwil DJPb DIY. Kegiatan ini diikuti oleh Perwakilan KUBE lingkup Kabupaten Kulonprogo, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulon Progo, PT. PNM, PT. Pegadaian dan pegawai bidang PPA II Kanwil DJPb DIY.

“Selain itu melakukan sosialiasi pembiayaan ultra mikro kepada para pelaku usaha ultra mikro di DIY termasuk di dalamnya Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Kulonnprogo,” dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (29/5/2020).

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos P3A Kulonprogo mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak pada KUBE yang ada di Kabupaten Kulonprogo terutama turunnya omzet penjualan pada KUBE yang bergerak dalam produksi batik. Untuk KUBE yang mempunyai usaha ayam petelur terbantu pemasarannya dengan adanya e-warung yang dikembangkan oleh Dinas Sosial dan PPA. “Kami berharap seluruh KUBE di Kulonprogo dapat tetap mempertahankan usahanya menghadapi pandemi covid-19 ini,” ujarnya.

Sarjidi, Kepala Desa Gulurejo menyampaikan KUBE di Gulurejo yang bergerak dalam produksi batik, ayam petelur, dan bebek petelur masih dapat mempertahankan produksinya di tengah pandemi Covid-19 walau pun mengalami penurunan pendapatan. KUBE yang bergerak dalam industri batik mengharapkan adanya pendampingan dalam pemasaran produknya karena selama ini hanya melalui media sosial.

Pendampingan tersebut di antaranya meliputi pelatihan pemasaran melalui e-commerce. Untuk KUBE yang mempunyai usaha ayam petelur mengalami permasalahan adanya kenaikan biaya produksi. Terutama untuk pakan maupun sarana pencegahan covid-19 bagi pekerja sementara harga produk turun karena adanya pesaing dari kota lainnya. Ia berharap adanya dukungan modal dan pendampingan usaha dari Dinas Sosial maupun pihak terkait agar KUBE di Gulurejo dapat tetap eksis. Pihaknya bersedia memberikan rekomendasi dan jaminan kelancaran kredit bagi penyalur UMi yang menyalurkan pembiayaan bagi KUBE di wilayahnya.

Eko Danarto, Kepala Cabang Pegadaian Wates mengungkapkan sejak Agustus 2019 telah menyalurkan pembiayaan ultra mikro secara perorangan. Saat ini sudah tersalur 1,9 miliar untuk 257 debitur di wilayah DIY. Pandemi covid-19 tidak terlalu berpengaruh terhadap kelancaran pembayaran angsuran debitur di Pegadaian karena sangat sedikit yang mengajukan restruksturisasi pembiayaan. “Pegadaian akan terus menyalurkan pembiayaan ultra mikro dengan plafon kredit sebesar 10 juta dan menggunakan jaminan,” ucapnya.

Panji Sasmoyo, Kepala Regional PT. PNM DIY menyatakan sampai bulan Mei 2019 telah menyalurkan kredit sebesar Rp287 juta kepada 85 nasabah. PT. PNM tidak mensyaratkan jaminan dalam pembiayaannya. Penyaluran dilakukan kepada kelompok dengan sistem tanggung renteng. “Angsuran dibayarkan setiap minggu dan akan dilakukan pendampingan kapasitas usaha setiap tiga bulan sekali,” ucapnya.