Hadapi New Normal, Vokasi Dan Industri Harus Terintegrasi

Ilustrasi PT Astra Honda Motor (AHM) mendukung aktivitas belajar mengajar di rumah melalui kehadiran portal e-learning Edukasi Satu Hati untuk 683 SMK binaan Astra Honda yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia./ Ist - AHM\\n\\n
05 Juni 2020 11:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Menghadapi masa new normal, sumber daya manusia (SDM) yang kuat dan sesuai kebutuhan sangat diperlukan. Pemerintah Daerah (Pemda ) DIY mengimbau pendidikan kejuruan dan vokasi berintegrasi dengan dunia industri.

Wakil Guernur DIY Sri Paduka Pakualam X, menuturkan untuk menghadapi new normal dunia industri dan masyarakat harus beradaptasi dengan perkembangan situasi. “Ada dua hal yang harus dilakukan, pertama membangun ekosistem SDM unggul, kedua menciptakan link and match antara dunia pendidikan vokasi dengan dunia industri,” katanya dalam live streaming webinar Kesiapan SDM Yogyakarta Di Era New Normal, Kamis (4/6/2020).

Membangun SDM unggul kata dia, artinya menyesuaikan pembangunan SDM dengan demand. Untuk itu, Pendidikan voaksi kedepan dituntut untuk bisa memberi wawasan SDM yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan industri. “Kompetensi by demand. Perubahan yang menuntut kita menyesuaikan diri,” ujarnya.

Untuk menghadapi new normal, pendidikan kejuruan dan vokasi perlu melakukan tiga hal, yakni reorientasi, revitalisasi dan rebranding.  Reorientasi kelembagaan pendidikan dan pelatihan fokasi mengarah pada mutu pendidikan yang berbasiskan kebutuhan. Revitalisasi yakni membenahi baik sarana dan prasarana pendukung agar memenuhi standar kejuruan.

Sedangkan rebranding melakukan kampanye positif terhadap pendidikan  kejuruan dan vokasi agar tidak menjadi lembaga pendidikan yang marjinal. Ia melihat, selama ini lulusan pendidikan kejuruan dan vokasi masih dipandang sebelah mata. Hal ini lah yang perlu dirubah.

Begitu pula dunia industri, ia berharap lebih banyak bisa menyerap SDM dari pendidikan kejuruan dan vokasi. Ia mencontohkan perusahaan yang sudah cukup bagus dalam penyerapan SDM seperti pada PT Pal di jawa Timur, yang menyerap banyak SDM fresh graduate dari sekolah kejuruan. “Menurut mereka peningkatan kompetensi lebih cepat dengan learning by doing,” ungkapnya.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sekarinto, mengatakan baik di masa pandemi ataupun tidak, ijazah dari pendidikan kejuruan dan vokasi harus disertai kompetensi yang diinginkan industri.

Ia melihat setelah masa pandemi ini akan lahir generasi SDM baru, yakni SDM yang jika bertemu orang lain cenderung menghindar, setelah bersentuhan mencuci tangan dan lebih senang berada di dalam rumah. sebab itu, integrasi juga perlu meyesuaikan diri dengan generasi baru ini dan jangan sampai terlambat.

Untuk mendukung integrasi ini, pihaknya tengah menyiapkan regulasi yang tepat. Ia mencontohkan regulasi tersebut akan mewajibkan guru atau dosen kejuruan dan vokasi untuk meriset sesuatu yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Pengembangan kurikulum harus fleksibel, sesuai kebutuhan industri. SDM kita ajar bersama guru dan dosen yang berasal dari praktisi dunia industri. Kompetensi setelahlulus menjadi aku bisa apa? bukan hanya aku belajar apa?” katanya.

Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial,Antonius Joenoes Supit, mengatakan DIY yang menjadi daerah pertama yang memiliki Komite Vokasi dan Produktivitas Daerah (KVPD) bisa menjadi percontohan pelaksanaan pendidikan vokasi yang baik.

“Keuntungan di Jogja ada Sri Sultan dan Pakualaman yang punya wibawa sehingga bisa dijadikan percontohan pelaksanaan vokasi yang benar supaya di daerah membuat kebijakan vokasi yang terhubung pusat. Pusat masih mencari bentuk, kalau ada satu daerah yg konsep jelas bisa dikopi di daerah lain,” katanya.