Sejumlah Warga di Sleman Keluhkan Tagihan Listrik Membengkak

Ilustrasi jaringan PLN - Bisnis/Paulus Tandi Bone
10 Juni 2020 20:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sejumlah pelanggan perusahaan listrik negara (PLN) di Jogja mengeluhkan soal kenaikan rekening listrik pada periode April di tengah pandemi Covid-19. Tidak sedikit pelanggan yang mengira jika tarif listrik naik di tengah pandemi.

Salah satu warga Badran, Bumijo, Jetis, Yogyakarta, Satrya, 28, mengatakan jika rekening listrik pada bulan April yang harus ia bayarkan pada bulan Mei naik cukup signifikan. Padahal, ia mengaku jika pemakaian listrik yang ia gunakan tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.

"Rekening listrik saya masuk golongan 900 VA. Biasanya rekening listrik saya per bulannya itu di angka Rp300-an ribu. Namun, bulan April ini malah naik sebesar Rp450 ribu. Padahal pemakaian saya ya sama aja seperti bulan sebelumnya Januari dan Februari," ujar Satrya kepada Harianjogja.com, Rabu (10/6/2020).

Lebih lanjut, Satrya sempat mengira jika tarif listrik di tengah pandemi Covid-19 ini naik. Pemakaian listrik di rumahnya yang biasanya hanya berada di angka Rp300 ribu per bulannya membuatnya ia mencoba untuk komplain ke PLN mengenai anomali tersebut.

"Petugas pencatat meteran dari PLN juga baru mulai mencatat lagi pada bulan Mei. Tarif listrik bulan Februari yang dibayarkan Maret itu masih normal. Padahal dulu katanya yang 900 VA mendapatkan subsidi, nyatanya juga tidak ada," ungkap Satrya.

Sementara itu, Evi, 22, warga yang tinggal di Bantulan Janti, Caturtunggal, Depok, Sleman juga mengeluhkan mengenai anomali tarif PLN. Evi menyebutkan jika tarif listrik pada bulan yang harus ia bayarkan pada bulan Mei mengalami peningkatan.

"Bulan Januari Februari Maret saya biasanya bayar listrik di angka Rp140 ribu. Namun, di bulan April tagihan listriknya sama. Padahal saya sudah tinggal sendiri teman-teman kontrakan saya sudah pada pulang ke kampung halamannya masing-masing. Harusnya kan turun ya, kok ini malah sama aja," terang Evi.

Tidak Naik

PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Yogyakarta menyatakan jika sejak tahun 2017 tidak ada kenaikan tarif yang diberlakukan oleh PLN.

Humas PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Jogja, Rina Wijayanti, mengatakan jika isu kenaikan tarif yang ada di masyarakat tidak benar. "Jadi rumor yang terjadi di masyarakat soal kenaikan tarif listrik itu tidak benar," kata Rina.

Rina mengatakan, ia dan jawatannya sewaktu pandemi Covid-19 ini khususnya pada bulan Maret petugas pencatat meteran memang tidak melakukan pencatatan di lapangan karena kantor juga menerapkan physical distancing.

"Maret itu kan sudah mulai pandemi Covid-19. Jadi, untuk yang pemakaian bulan Maret dilakukan penghitungan rata-rata dari bulan Desember, Januari, dan Februari," imbuhnya.

Penghitungan rata-rata tarif listrik sejak tiga bulan terakhir sejak Desember Januari Februari yang dilakukan oleh jawatannya didasarkan, pertama yakni PLN berupaya untuk mematuhi aturan pemerintah pusat pada saat itu yang menganjurkan untuk melakukan physical distancing.

Ia dan jawatannya juga tidak mau ambil risiko. PLN juga tidak ingin menjadi carrier virus bagi penghuni rumah. Makanya diambil keputusan mengambil rata-rata pemakaian listrik bulan April berdasarkan rata-rata pemakaian bulan Desember Januari Februari.

"Kenapa tiga bulan? kalau hanya berdasarkan bulan sebelumnya yakni Februari kan enggak fair. Jadi, kami ambil rata-rata pemakaian tiga bulan seperti apa historisnya. Makanya, di rekening bulan April itu banyak yang bilang rekeningnya naik dan sebagainya," terangnya.

Akhirnya, lanjut Rina, banyak konsumen yang komplain jika pemakaian listrik bulan April naik. Jadi, ia dan jawatannya memutuskan untuk mulai melakukan pencatatan meteran kembali pada bulan Mei.

"Hal tersebut juga dalam rangka untuk menanggapi komplain di masyarakat. Jadi, kemarin sudah dilakukan pembacaan meteran di masyarakat tetapi mungkin tidak semuanya karena ada beberapa daerah yang wilayahnya di lockdown jadi petugas kami tidak bisa masuk. Ada juga yang pagarnya terkunci," tutupnya.