Sisir Corona, Warga di 35 Kelurahan di Kota Jogja Dites Cepat

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
17 Juni 2020 15:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Rapid Diagnostic Test (RDT) acak kembali digulirkan Pemkot Jogja. Setelah mengambil sampel di pasar tradisional dan mal, kali ini pengambilan sampel menyasar masyarakat di kelurahan, Kota Jogja.

Ketua Harian Gugus Tugas Kota Jogja, Heroe Poerwadi menjelaskan Rapid Diagnostic Test (RDT) penentuan sampel ditentukan oleh Tim Epidemiologi UGM. Heroe menyebutkan dari 45 Kelurahan, sampel diambil di 35 Kelurahan. Selanjutnya dari 2.534 RT, hanya 69 RT yang diambil sampel. "Total sampel warga yang diambil sebanyak 618 orang, RDT acak dilakukan selama dua hari," jelasnya pada Rabu (17/6/2020).

Diterangkan Heroe kriteria sampel yang diambil juga ditentukan oleh Tim Epidemiologi UGM. Heroe mencontohkan jumlah sampel yang diambil tiap kelurahannya berbeda. "Ada yang berdasar jumlah penduduknya, ada yang merujuk pada jumlah kasus dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang ada di wilayah tersebut," terangnya.

Selain itu karateristik sampel yang diambil juga memiliki proporsi yang berbeda-beda. "Jumlah proporsi sampel ibu-ibu berapa, anak-anak berapa, tapi ada proporsi anak minimal usia satu tahun, itu memang diatur," jelas Heroe.

Heroe menjelaskan sistem pengambilan sampel yang dilakukan dalam RDT acak kali ini memakai sistem snowball. "Jadi sistemnya ditunjuk, habis dari sini ke sini lalu ke sini dan seterusnya," terang Heroe. Bila satu titik tidak mau maka meloncat ke titik selanjutnya. "Memang dibuat sedemikian rupa oleh Tim Epidemiologi UGM agar data yang diambil bisa merepresentasikan sampel untuk seluruh Kota Jogja," imbuhnya. Dia menambahkan adapun masyarakat yang tidak mau itu karena takut disuntik. Dikatakan oleh Heroe pada pelaksanaan RDT di mal saja ada empat orang yang pingsan karena takut disuntik.

Lebih lanjut Heroe mengatakan mau tidak mau Pemkot Jogja harus mengetahui kondisi masyarakat secara keseluruhan. "Oleh karena itu kita mengambil secara kewilayahan kita ingin mengetahui apakah sebenarnya wilayah itu sebaran yang tidak terdeteksi karena tidak memeriksakan di layanan kesehatan itu yang ingin kita ketahui," ujarnya.

Terkait kemungkinan adanya pasien reaktif maupun positif yang bertambah dari hasil RDT acak, Heroe mengatakan Pemkot Jogja mengaku siap menangani kemungkinan terburuk itu. Diterangkan Heroe saat ini Pemkot Jogja memiliki dua gedung shelter dengan kapasitas sekitar 110 orang. "Kapasitas ruang isolasi Kota Jogja saat ini 45 ruangan dan itu masih bisa lakukan ekstensi sehingga menjadi 95 ruangan," jelasnya.