Pandemi Corona Kian Memperparah Ketimpangan DIY

Foto Ilustrasi. - Ist/Freepik
20 Juli 2020 06:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mencatat DIY sebagai daerah dengan ratio gini atau ketimpangan tertinggi di Indonesia pada Maret lalu. Kondisi ekonomi masyarakat yang heterogen diperparah dengan pandemi covid-19 menjadi pemicu tingginya ketimpangan.

Berdasarkan data BPS, ratio gini DIY pada Maret lalu tercatat sebesar 0,434. Angka ini naik dari ratio gini DIY pada September 2019 yakni sebesar 0,428. Angka ini sekaligus Kembali menempatkan DIY sebagai daerah dengan ketimpangan tertinggi di Indonesia.

BACA JUGA : SURVEI TERBARU: Bukannya Membaik, Ketimpangan

Dosen Fakultas Ekonomi UPNV Jogja, Ardito Bhinadi, menuturkan pada dasarnya kondisi masyarakat di DIY sangat heterogen dari sisi ekonomi. “Banyak pendatang kelas menegah atas masuk, memicu munculnya kafe, hotel dan restoran,” ujarnya, Jumat (17/7/2020).

Dengan bermacam sarana yang hanya dapat diakses kelas menengah atas tersebut, pengeluaran para pendatang ini menjadi besar. Sementara pengeluaran kelas menengah ke bawah tidak sebanding. Karena ratio gini berbasis pengeluaran, hal ini menjadikan ketimpangan DIY cukup tinggi.

Kondisi ini diperparah dengan pandemi covid-19, dimana kelas menengah ke bawah lah yang sangat terdampak, sementara kelas menengah atas hanya sedikit terdampak. “Pada masyarakat lokal cukup terasa karena sector wisata dan Pendidikan yang jadi basis pendapatan tidak berjalan,” ungkapnya.

Wisata dan Pendidikan menyumbangkan wisatawan dan mahasiswa sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat lokal berupa warung makan, kos, pengerajin suvenir dan sebagainya. Maka pada pandemic ini, masyarakat lokal terutama yang bekerja pada sektor informal lah yang paling merasakan dampak.

BACA JUGA : Rasio Gini DIY Tertinggi Se-Indonesia

Akibatnya menurunnya pendapatan, menurun pula pengeluaran yang menjadi indeksd alam ratio gini. Kendati cukup dilematis, menurutnya untuk memulihkan kondisi ini seharusnya wisata  dan Pendidikan kembali dibuka secara bertahap dan disiplin menerapkan protokol Kesehatan.

Kendati demikian ia memberi catatan jika pembukaan kedua sektor ini harus memberi aksess ekonomi pada masyarakat lokal. “jangan biarkan yang menikmati perkembangan pariwisata dan Pendidikan justru pendatang,” ujarnya.

Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengakui ratio gini di DIY selama ini angkanya memang cukup tinggi, yang diperparah oleh pandemic covid-19. Mengatasi hal ini, menurutnya saat ini yang paling penting untuk dikejar adalah pertumbuhan ekonomi Kembali.

“Untuk tumbuh ekonomi, bagi mereka yang menerima bantuan sosial silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk konsumsi karena itu akan membuat perputaran ekonomi lebih baik. Unit usaha juga segera melakukan aktivitas. Gini ratio tidak bisa kita hindari, tapi kalau kita kejar pertumbuhanya, mudah-mudahan gini ratio bisa menyesuaikan,” katanya.