Pakar UGM Ingatkan Masyarakat Jangan Panik dalam Merepons Kondisi Merapi

Gunung Merapi mengalami erupsi Minggu (21/6/2020) pagi. - Ist/ twitter @BPPTKG
20 Juli 2020 12:27 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, DEPOK--Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko meminta masyarakat di lereng gunung tak perlu panik menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Kendati demikian, masyarakat harus tetap waspada.

Menurut Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM ini, meski Gunung Merapi mengeluarkan guguran material pada Rabu (15/7/2020) petang lalu, namun Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan status Gunung Merapi pada level II atau waspada. Sehingga, belum ada peningkatan potensi bahaya dari aktivitas Gunung Merapi. Saat ini ancaman bahaya masih berada pada radius tiga kilometer dari puncak Merapi.

BACA JUGA : Tubuh Merapi Menggembung, Ini Pengamatan Juru Kunci 

“BBPTKG menyatakan ada penggembungan di tubuh Merapi yang mengindikasikan ada magma yang bergerak di dalamnya, tapi masih lebih kecil dibanding deformasi sebelum erupsi 2010,” kata dosen Teknik Geologi UGM ini pada Sabtu (18/7/2020).

Menurutnya, pergerakan magma tersebut bisa berlanjut dengan erupsi, bisa juga tidak. Apabila terjadi erupsi, maka kemungkinan erupsi yang akan terjadi bisa berupa erupsi efusif yang membentuk kubah lava atau berupa erupsi eksplosif dengan letusan yang kuat.

Terlebih, erupsi Merapi bukan baru-baru ini saja terjadi, tapi sudah berlangsung lama. "Sudah sejak keluarnya kubah lava pada 2018 lalu,” imbuhnya.

Agung menuturkan saat ini BPPTKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Merapi dengan baik. Namun, masyarakat perlu mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari erupsi gunung api sebagai upaya mitigasi bencana.

BACA JUGA : BPPTKG Sebut Terjadi Guguran Gunung Merapi

Bahaya utama saat terjadi longsoran kubah lava dengan volume besar adalah terbentuknya awan panas atau yang dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan wedhus gembel. Selain itu, juga ancaman abu vulkanik yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan.

“Saat terjadi hujan abu, masyarakat diharapkan memakai masker untuk mencegah partikel-partikel abu halus terhirup ke tubuh,” kata dia.

Setelah erupsi berakhir, lanjutnya, masyarakat juga perlu mewaspadai ancaman lahar dingin saat musim penghujan. Curah hujan dengan intensitas tinggi akan membawa material vulkanik dari letusan gunung yang berada di lereng gunung.

“Tetap tenang dan jangan panik. Ikuti arahan dan patuhi rekomendasi yang disampaikan oleh BPPTKG atau BPBD setempat,” tegasnya.