Droping Air Gunungkidul Mulai Menipis, BPBD Ajukan 5.000 Tangki
Anggaran droping air di sejumlah kapanewon Gunungkidul mulai menipis. BPBD mengajukan tambahan 5.000 tangki untuk menghadapi kemarau hingga akhir tahun.
Dua orang sedang memancing di Embung Plumpit, Kalurahan Sumberejo, Semin. Memasuki musim kemarau, debit air di embung ini menyusut karena banyak disedot untuk pemeliharan tanaman di wilayah sekitar. Rabu (21/7/2020). Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - BPBD Gunungkidul mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Untuk tahap awal bantuan menyasar delapan dusun di wilayah Kapanewon Semanu dan Rongkop.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya mulai menyalurkan bantuan air ke masyarakat. Data sementara warga terdampak kekeringan di Gunungkidul sebanyak 101.181 jiwa tersebar di enam kapanewon meliputi Semanu, Rongkop, Tepus, Girisubo, Saptosari dan Paliyan. “Kemungkinan masih bisa bertambah pada saat memasuki puncak kemarau,” katanya kepada wartawan, Selasa (21/7/2020).
Dia menjelaskan, bantuan air bersih tidak hanya dilakukan BPBD, karena ada sepuluh kapanewon yang memiliki anggaran droping sendiri. Sedangkan delapan kapanewon lainnya tidak mengalokasikan sehingga saat ada krisis air akan dibantu dari BPBD. “Makanya kita lakukan pemetaan dengan harapan penyaluran tidak tumpang tindih sehingga tepat sasaran,” kataanya.
Edy menuturkan, untuk tahap awal penyaluran dari BPBD dilaksanakan di sembilan titik dengan pengiriman air bersih sebanyak empat tangki di setiap dusunnya. Adapun lokasi yang diberikan bantuan meliputi Dusun Piyuyon dan Banyumanik di Kalurahan Pacarejo; Dusun Ngalangombo dan Sendang di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu. Sedangkan di Kapanewon Rongkop meliputi Dusun Kerdonmiri, Tirisan dan Karangwuni, Kalurahan Karangwuni; Dusun Kemesu dan Karangwetan di Kalurahan Semugih.se
“Bantuan akan terus kami berikan. Namun dengan syarat harus ada permintaan resmi yang masuk ke BPBD,” katanya.
Untuk droping air bersih, tahun ini BPBD mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp700 juta. BPBD juga sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan sebagai upaya kesiapan menghadapi bencana kekeringan di musim kemarau, sejak akhir Mei lalu. “Kalau semakin parah dan warga terdampak terus bertambah, statusnya bisa ditingkatkan menjadi darurat. Pada saat status darurat, maka BPBD bisa mengakses dana belanja tak terduga yang disediakan Pemkab Gunungkidul,” katanya.
Lurah Pacarejo, Semanu, Suhadi mengatakan, di wilayahnya ada dua dusun yang sering kekurangan air bersih saat kemarau, yakni di Banyumanik dan Piyuyon. Di wilayah ini sebenarnya sudah terdapat jaringan instalasi PDAM, namun alirannya kurang lancar. “Sudah kami sampaikan keluhan masyarakat, tapi hingga sekarang belum kondisinya masih tetap sama,” katanya.
Menurut Suhadi, upaya mencari sumber air juga telah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi geolistrik. Namun setelah pengecekan dan pengeboran sedalam 160 meter, air yang diinginkan tidak kunjung keluar.
Upaya penyaluran air bersih juga sudah dilakukan oleh Kapanewon Tepus sejak akhir Juni lalu. Jawatan Sosial, Kapanewon Tepus, Joko Santoso mengatakan, untuk droping telah mengalokasikan anggaran Rp106 juta. Adapun penyaluran bantuan sudah dilaksanakan di Kalurahan Purwodadi, Tepus dan Sidoharjo. “Sudah berjalan dan target kami di akhir Juli bisa menyalurkan air sebanyak 213 tangki,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran droping air di sejumlah kapanewon Gunungkidul mulai menipis. BPBD mengajukan tambahan 5.000 tangki untuk menghadapi kemarau hingga akhir tahun.
Kota Magelang memperkuat program DEKSI untuk menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan iklim dengan melibatkan kelurahan dan masyarakat.
Sebanyak 14 SPPG di DIY disuspend, terdiri dari 3 terkait dugaan keracunan MBG dan 11 karena belum memiliki SLHS.
Prabowo meminta karhutla segera dipadamkan sekaligus memastikan masyarakat terlindungi dan orangutan Kalimantan yang terdampak diselamatkan.
APJAPI menilai perubahan aturan bagasi Garuda dari bobot ke jumlah koli berpotensi merugikan penumpang dan tidak sesuai regulasi.
Kolam koi 1,2 hektare di Banguntapan diprotes warga. Hasil pemeriksaan OPD Bantul merekomendasikan perbaikan, bukan penutupan.