Bukan karena Peralatan, 70% Gangguan Listrik di Jogja Didominasi Faktor Sosial

Foto ilustrasi. - Ist/ dok PLN Distribusi Jateng & DIY
06 Agustus 2020 04:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Gangguan listrik hingga kini didominasi oleh faktor sosial. Adapun gangguan listrik yang disebabkan faktor peralatan kasusnya hanya sedikit.

Manajer PLN Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Jogja Abdul Rahman Budi Setyo mengatakan selama ini gangguan listrik terjadi 70% dikarenakan faktor sosial dan hanya 30% yang disebabkan faktor peralatan.

Baca juga: Pemkab Bantul-BPD DIY Siap Bangun Wisata Agro di Nawungan

"Salah satu penyebab gangguan tersebut penanaman pohon keras dan tinggi yang berpotensi menyentuh konduktor (ruang bebas)," katanya saat sosialisasi terkait manfaat dan bahaya listrik bagi masyarakat, Rabu (5/8/2020) di Ruang Sembada Setda Sleman.

Selain pohon, adanya bangunan yang terlalu dekat dengan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) juga dapat menimbulkan gangguan listrik serta bisa pula membahayakan penghuninya.

"Jarak bebas minum vertikal dari konduktor pada SUTET untuk tanaman dan bangunan adalah 9 meter, sedangkan SUTT 5 meter", ungkapnya.

Baca juga: Rektor UNY Sutrisna Wibawa Khawatirkan Keselamatan Anak Mencari Sinyal

Selain itu, contoh penyebab gangguan listrik yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat lainnya ialah bermain layang-layang atau pun balon udara yang berdekatan dengan jaringan listrik. Kegiatan ini menurutnya sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kerugian yang besar. Pasalnya jika layang-layang putus atau jatuh kemudian mengenai konduktor SUTT/SUTET, maka dapat menimbulkan ledakan.

Akibatnya, akan terjadi gangguan dan kerusakan peralatan PLN. Dan yang lebih bahaya lagi, kata Abdul, jika ada orang di bawahnya akan berakibat fatal, bahkan bisa menimbulkan korban jiwa. "Saya berharap masyarakat lebih berhati-hati saat melakukan kegiatan, terlebih saat berada di dekat jaringan listrik," ungkapnya.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi Pemkab Sleman, Suyono mengatakan masyarakat harus diedukasi tentang bahaya listrik ini. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi kasus gangguan listrik akibat faktor sosial.