Tes Corona Bikin Mahasiswa Dilema

Ilustrasi. - Freepik
10 Agustus 2020 20:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Banyak mahasiswa memutuskan tetap tinggal di DIY saat pandemi Covid-19 melanda. Mahalnya biaya tes sebagai persyaratan untuk menuju ke kampung halaman, membuat mereka terpaksa menahan rindu.

Sepekan lalu, masa tanggap darurat DIY resmi diperpanjang karena jumlah kasus positif kian bertambah. Praktis, sistem perkuliahan via online juga diperpanjang. Begitu pula dengan penerimaan mahasiswa baru dan ospek universitas dilakukan secara daring.

Mahasiswa yang mengikuti kuliah secara daring, praktis tidak memiliki kegiatan apapun di kampus. Banyak dari mereka yang memilih untuk pulang ke kampung halaman.

Tetapi tidak dengan Carolina Ramanita Wala Ola, 21. Mahasiswi asal Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memilih tetap tinggal di Jogja hingga waktu yang belum ditentukan. Rapid test ternyata menjadi salah satu alasannya untuk tetap tinggal di Jogja.

"Saya tidak tertarik [rapid test maupun swab test]. Pertama karena rumah saya jauh dan harga tiket pesawat mahal, lalu masih harus ditambah dengan tes swab yang harganya bisa mencapai Rp1 jutaan atau rapid test sekitar Rp200.000? Wah, kurang worth it," kata mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) tersebut kepada Harianjogja.com, Senin (3/8).

Dengan tarif yang dinilainya tidak bersahabat bagi kantong mahasiswa itu, baik rapid test maupun tes usap (swab), dia merasa kurang efektif. Pasalnya meskipun surat hasil rapid test berlaku selama 14 hari, seseorang masih bisa terinfeksi virus Corona dalam rentan waktu tersebut.

"Kalau hanya rapid test sebenarnya agak terjangkau, tapi menurut saya kurang akurat. Kalau yang akurat swab test pun kemahalan, apalagi setelah swab masih bisa terinfeksi di jalan kan? Sampai sana [Flores] masa swab lagi buat memastikan?" kata Carol.

Carol mengaku tidak mempermasalahkan stigma teman satu kos atau tetangga indekosnya di kawasan Babarsari, Sleman, apabila hasil tesnya positif. Menurutnya, lingkungan sekitarnya justru akan cepat tanggap membantu apabila ada seseorang di sekitar mereka ternyata positif Covid-19. Misalnya memanggil ambulans atau lapor ke ketua RT.

Carol juga sudah mempelajari prosedur rapid test dan tes usap sebagai syarat perjalanan. Menurutnya itu tak terlalu rumit. Beberapa kawannya, kata dia, sudah bisa mendapatkan surat rapid test dalam waktu satu hari saja.

Itulah sebabnya, Carol mutlak hanya mempermasalahkan tarif yang terlalu mahal serta sistem tes yang menurutnya tidak efektif. Belum lagi hatinya dipenuhi perasaan takut jika dia menularkan virus kepada keluarganya di Flores, tanpa dia ketahui.

"Selain biaya tes mahal, keluarga saya yang di kampung halaman kebanyakan udah tua. Jadi daripada berisiko, lebih baik saya tetap di Jogja saja," kata Carol.

Senada, Halida Fitri, 22, merasa terbebani dengan biaya rapid test. Sebab biaya transportasinya ke kampung halaman di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat menurutnya cukup mahal. Tiket pulangnya menggunakan pesawat bisa mencapai Rp7 Juta. "Apalagi hasil tes cuma berlaku 14 hari. Kalau mau swab test jelas kemahalan," kata Halida.

Berbeda dengan Carol, Halida justru khawatir dengan respon lingkungan di sekitar kos terhadap orang yang positif Covid-19. Akan tetapi bukan lantaran khawatir dikucilkan, Halida lebih mengkhawatirkan biaya tambahan yang harus ditanggung oleh uang jajan bulanannya selama di Jogja.

"Di lingkungan indekosku ketat sekali. Teman yang baru balik dari Lombok, sampai kos disuruh tes lagi sama yang punya kos. Tentu saja itu kan biaya lagi. Padahal menurut prosedur daerah ya karantina mandiri, kalau ada keluhan baru minta surat ke RT untuk dirujuk ke rumah sakit," kata Halida.

Halida juga mempertimbangkan prosedur rapid test di puskesmas-puskesmas yang menurutnya rumit. Halida tidak mempermasalahkan tes ulang saat hasil rapid test-nya positif, tetapi dia hanya malas mengantre lama di puskesmas yang menurutnya riskan terjadi penularan virus.

Melihat fenomena itu, Halida semakin kuat untuk mengurungkan diri untuk pulang ke kampung halaman. Dia masih belum tahu kapan dia bisa pulang ke kampung halamannya.

Kepala Puskesmas Sewon II Kuncoro Jati mengatakan saat ini kampus tersebut juga sepi dari aktivitas mahasiswa. Meski ada beberapa mahasiswa ISI Jogja yang pulang kampong, tetapi dia mengaku masih sedikiti dari mereka yang melakukan rapid test di Puskesmas Sewon 2. 

"Hampir tidak ada yang muda [yang melakukan rapid test]. Kalau pergerakan mahasiswa pulang kampung terlihat, tapi mereka mungkin rapid test di tempat lain. Mereka bisa tes di mana saja," kata Kuncoro.

Dia mengatakan tidak ada pendataan mahasiswa yang melakukan rapid test di puskesmas. Semua yang datang untuk rapid test dihitung dalam jumlah angka tanpa klasifikasi umur dan jenis pekerjaan.

Menurutnya saat ini yang terpenting adalah semua orang yang hendak melakukan perjalanan luar kota bisa taat melakukan rapid test di puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat. "Karena itu cara untuk mendeteksi orang tanpa gejala (OTG) yang justru lebih berbahaya karena susah dilacaknya," kata Kuncoro.