Pesan Pakar: Jangan Membunuh Ular!

Ilustrasi. - Reuters
28 Agustus 2020 22:57 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Gigitan ular berbisa yang berisiko pada kematian membuat hewan reptilia ini sering ditakuti oleh masyarakat. Ada masyarakat yang berusaha mengusir hewan ini, tetapi ada pula yang tega membunuhnya agar tidak masuk ke lingkungan rumah. 

Ditemukannya ular yang masuk ke pekarangan hingga ke dalam rumah menandakan hewan melata ini kehilangan habitat dan sumber makanannya sehingga menjelajah ke lingkungan tempat tinggal manusia.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Donan Satria Yudha, M.Sc., mengatakan menemukan ular baik di jalan atau di dalam rumah sebaiknya jangan dibunuh, sebaliknya dikembalikan ke habitatnya di alam liar.

“Ular yang masuk ke pekarangan menandakan banyak lahan sudah dikonversi, kondisi hutan habitat mereka sudah rusak. Kita sebaiknya menciptakan habitat buatan. Disediakan lahan untuk mereka,” kata Donan saat memberikan pelatihan keterampilan dasar menangkap dan mengendalikan ular kepada petugas Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) di kampus UGM, dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (28/8/2020).

Menurut Donan, ular yang terlanjur masuk ke dalam rumah sebaiknya tidak dibunuh atau diganggu namun perlu dikendalikan atau ditangkap untuk dilepas kembali. Namun saat proses penangkapan ular sebaiknya tidak dengan menyentuh langsung dengan tangan tapi menggunakan alat berupa tongkat kayu atau bambu untuk dimasukkan ke dalam kantung kain. “ Usahkan kepala ular jauh dari posisi kaki kita,” katanya.

Agar terhindar dari gigitan ular, ia menyarankan masyarakat berhati-hati saat berjalan di daerah semak belukar, lapangan terbuka atau di rumah kosong yang tidak ditempati lagi. Sebab menurutnya ular menyukai daerah yang lembab atau berada di bawah tumpukan barang yang tidak pernah dibersihkan dalam waktu lama. “Tempat yang lembab dan ada tumpukan jadi lokasi ular untuk menetap,” paparnya.

Gigitan ular berbisa menurutnya sangatlah berbahaya. Ia menuturkan tidak semua rumah sakit menyediakan serum untuk semua jenis bisa ular. Oleh karena itu, ia menyarankan apabila terkena gigitan ular berbisa, sebelumnya sudah diketahui jenis ular tersebut. “Tidak semua serum bisa digunakan. Yang saya tahu di Jogja hanya ada tiga jenis serum, jika masih bisa hidup [setelah digigit] itu anugerah,” paparnya.

Seperti diketahui dalam pemberian pelatihan dasar menangkap dan mengendalikan ular, Donan bersama tim membawa beberapa jenis ular sabagai bahan praktek yakni ular king konbra, ular viper pohon dan ular kayu. Pelatihan teknik menangkap dan mengendalikan ular ini menggunakan alat penangkap ular (grab stick).

Kepala PK4L Arif Nurcahyo, S.Psi., M.A., mengatakan pelatihan ini dimaksudhkan memberikan pemahaman dan edukasi bagi anggotanuya tentang seluk beluk ular, mengenal jenis karakter ulat dan paham mengendalikan ular serta paham dalam memberi pertolongan pertama jika terkena gigitan ular.

“Kita harapkan bisa meningkatkan keterampilan  para petugas PK4L untuk menangani jika ada ular ular yang masuk ke rumah maupun ke rumah penduduk yang tinggal di sekitar kampus,” katanya.*