Kraton Banyak Merangkul Kalangan Milenial untuk Melestarikan Budaya

Kraton Jogja. - Harian Jogja
02 September 2020 12:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhomardowo Kraton Ngayogyakarta Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro menjelaskan terkait kesenian selama sewindu keistimewaan ini di Jogja sudah cukup baik. Seniman muda seperti yang menempuh jenjang sekolah seni pun banyak diberikan jadwal tampil. Dari segi pendanaan pun, seniman Jogja lebih banyak terakomidasi dibandingkan dengan wilayah lainnya.

"Kalau dari segi merangkul kalangan milineal saya rasa tidak ada masalah," ungkap KPH Notonegoro, Selasa (1/9/2020).

BACA JUGA : Kampanye Budaya di Tengah Pandemi ala Calalocana Agency

Namun yang menjadi sorotannya adalah bagaimana pelestarian budaya seperti penggunaan bahasa dan tindak tanduk dalam kehidupan sehari-hari. KPH Notonegoro menilai porsi antara gerak kesenian dan kebudayaan belum berimbang, masih condong pada kesenian saja.

Upaya merangkul generasi milineal dalam sewindu keistimewaan juga ditunjukkan dengan menggelar Flash Mob tari klasik adilihung di Malioboro. KPH Notonegoro menyebutkan Flash Mob tersebut  menjadi salah satu usaha merangkul milineal.

"Agar milineal tidak merasa kesenian adilihung itu kuno, karena anak-anak muda yang masih butuh berkesenian, itu kan butuh mengepresikan diri," jelasnya.

BACA JUGA : Busana Jawa saat Kraton Jogja Masih Jadi Negara Sendiri

Menurut Notonegoro, bila dipaku dengan pranata atau aturan yang detail maka akan sangat kaku, sehingga mereka akan kehilangan ruang. Kegiatan lain yang dilakukan untuk merangkul milenial juga dilakukan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan menggelar pertunjukan Wayang Wong di Sekaten. Selama tiga hari dibuka jumlah penonton ribuan menyaksikan pertunjukan wayang wong.

"Bahkan di hari terakhir sampai 5.000 orang yang nonton," ucapnya.

Dari jumlah tersebut kebanyakan penonton merupakan generasi milineal. Sehingga bisa disimpulkan bagaimana animo masyarakat termasuk generasi milineal terhadap kesenian masih tinggi. Langkah mewadahi generasi muda juga dilakukan dengan cara lain. KPH Notonegoro juga mengatakan bahwa dalam sewindu keistimewaan ini banyak abdi dalem yang berusia cukup muda yang mengabdi.

Para abdi dalem muda ini lah yang selanjutnya menjadi regenerasi dari abdi dalem termasuk para penerus kesenian Kraton dari seni tari hingga karawitan. Hasilnya satu gending baru pun diciptakan dari abdi dalem muda ini.

Tidak hanya itu, guna merangkul milenial dan memperlebar jangkauan, Kraton juga meningkatkan intensitas tayangan daring. KPH Notonegoro melatih abdi dalem yang ada untuk belajar bagaimana cara mendokumentasikan berbagai kegiatan Kraton.

BACA JUGA : GKR Bendara Ungkap Suka Duka Menjadi Anak Bungsu

Kemudian melatih bagaimana tata pencahayaan, koneksi, hingga diunggah ke media sosial sehingga bisa disaksikan masyarakat luas. "Dari sisi penggunaan media sosial sebagai panggung," ujarnya.

Media sosial juga digunakan untuk menjadi wadah promosi kegiatan seni dan budaya di Kraton. "Untuk mempromosikan Srimpi Muncar itu kita ada poster, ada Citro Kondho, slide rangkaian cerita, dan ada tiga vlog," jelasnya.