Sasaran Manfaat Nyamuk Ber-Wolbachia di Kota Jogja Diperluas

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (kiri) dalam acara "Seremoni Perluasan Manfaat Nyamuk Ber-Wolbachia" pada (2/9/2020). - Ist/dok
03 September 2020 05:37 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Penelitian WMP Yogyakarta selama 10 tahun terakhir telah membuktikan bahwa teknologi Wolbachia efektif untuk pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD).

Hasil penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) menunjukkan bahwa Wolbachia efektif menurunkan 77% kejadian demam berdarah pada daerah intervensi, dibandingkan dengan daerah pembanding di Kota Jogja.

Berdasarkan hasil tersebut, pada September 2020 WMP Yogyakarta bersama Pemerintah Kota akan memperluas manfaat nyamuk Ber-Wolbachia di seluruh Kota Jogja.

Baca juga: 751 Tangki Air Bersih Didistribusikan di Wilayah Terdampak Kekeringan

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, dalam acara “Seremoni Perluasan Manfaat Nyamuk Ber-Wolbachia” pada (2/9/2020) menyampaikan bahwa WMP Jogja bersama Pemerintah Kota Jogja per hari ini mulai melakukan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di seluruh Kota Jogja, khususnya di area yang sebelumnya merupakan wilayah pembanding penelitian.

“Selama bertahun-tahun Kota Jogja menjadi daerah endemis DBD, dan berbagai upaya telah kami lakukan untuk menurunkan kasus kejadian demam berdarah ini, termasuk dengan menggunakan teknologi Wolbachia," katanya.

Namun, meskipun teknologi Wolbachia ini membantu dalam menurunkan angka kasus demam berdarah, warga harus tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, dan secara rutin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar terbebas dari DBD dan penyakit lainnya.

Baca juga: Kredit Pede, Salah Satu Cara BPD DIY Bangkitkan UMKM saat Pandemi

Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta, Riris Andono Ahmad menyampaikan selama Bulan September sampai dengan Desember tahun ini, akan dilakukan pelepasan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di wilayah pembanding di Kota Jogja. Ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kota Jogja, Dinas Kesehatan Kota Jogja, dan WMP Jogja.

Dokter yang akrab disapa Donnie ini menambahkan, Wolbachia merupakan pelengkap pengendalian demam berdarah, sehingga program pengendalian demam berdarah yang sudah ada, perlu terus dilakukan secara periodik.

Ketua Yayasan Tahija, Trihadi Saptoadi menyampaikan rasa bangganya dan sangat bersyukur atas keberhasilan penelitian RCT. "Ini semua dapat terwujud atas dukungan yang luar biasa dari para pemangku kepentingan dan utamanya partisipasi masyarakat Kota Jogja," katanya.

Ia menambahkan sebagai bagian tanggung jawab etis dan moral maka secepatnya pelepasan nyamuk harus dilakukan di wilayah pembanding, tentu setelah berkonsultasi dan disetujui oleh semua pihak. Pihaknya berharap penurunan yang signifikan juga akan dialami oleh wilayah ini nantinya.

Lurah Rejowinangun, Wulan Purwandari sebagai tuan rumah acara “Seremoni Perluasan Manfaat Nyamuk Ber-Wolbachia”, menyampaikan bahwa kasus demam berdarah di Rejowinangun beberapa tahun terakhir selalu tinggi. Ia berharap dengan adanya pelepasan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di daerahnya akan terjadi penurunan kasus DBD secara signifikan, bahkan warganya bisa terbebas dari ancaman demam berdarah.

Wulan menambahkan, sebanyak 402 titik di Kelurahan Rejowinangun akan disebari ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia. Bersama-sama dengan warga, Wulan berkomitmen akan menjaga ember-ember berisi telur nyamuk, sehingga kelak nyamuk ber-Wolbachia bisa menetap dan berkembang biak secara alami di area Rejowinangun.

Senada dengan Wakil Walikota, Wulan pun mengingatkan warga untuk tidak lupa menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, serta menjalankan rutinitas Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dengan 3M plus yaitu Menguras/Membersihkan tempat penampungan air, Menutup rapat tempat-tempat penampungan air, Mengubur/Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan Ikanisasi.

“Selain itu, kita juga terus mendukung program pemerintah yang sudah ada, yaitu program gerakan satu rumah satu jumantik,” tambahnya.

Direktur Regional WMP Asia, Dr. Claudia Surjadjaja menyampaikan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) pada 2019 menyatakan bahwa DBD merupakan 1 dari 10 ancaman kesehatan di dunia, karena tidak adanya intervensi yang efektif.

Sedangkan pada tahun 2012 lalu, WHO menargetkan pengurangan kematian karena DBD sebesar 50% dan pengurangan kesakitan DBD 25%, pada tahun 2020. Target ini sulit dicapai karena tidak adanya vaksin yang digunakan secara luas, dan pengendalian demam berdarah yang efektif.

Menurutnya, inovasi yang dikembangkan oleh World Mosquito Program (WMP) selama ini, diharapkan bisa berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan kematian dan kesakitan karena demam berdarah tersebut.

“Saat ini WMP beroperasi di 12 negara, yaitu Indonesia, India, Srilanka, Vietnam, Brazil, Colombia, Mexico, Australia, Fiji, Vanuatu, Kiribati, dan New Caledonia. Ke depan, kami akan terus mengembangkan kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat khususnya di daerah endemik DBD, untuk bersama-sama melawan DBD,” tambah Claudia.

Acara Seremoni Perluasan Manfaat Nyamuk Ber-Wolbachia diselenggarakan secara online dari kantor Kelurahan Rejowinangun, dipandu oleh Den Baguse Ngarso. Sebagai lokasi peletakan ember pertama, acara yang diselenggarakan pada Rabu (2/9/2020) ini merupakan perayaan bersama seluruh Puskesmas, Kecamatan, dan Kelurahan di Kota Jogja.

Bersama dukungan dari Dinas Kesehatan dan Diskominfosan Kota Jogja dalam acara ini Den Baguse Ngarso bersama rekan-rekan menampilkan hiburan yang menyiratkan pesan pentingnya menjaga ember nyamuk dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, serta secara rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). (*)