Pilkada DIY, Pengamat: Figur Saja Tak Cukup untuk Meraih Kemenangan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
03 September 2020 13:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Wawan Mashudi menilai, proses Pilkada di tiga kabupaten di DIY menarik untuk diamati. Selain dinamis, pasangan calon yang maju juga dinilai kompetitif sehingga semua paslon memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kemenangan.

Menurut Wawan, Pilkada saat ini memunculkan tingkat kompetisi yang sehat karena tidak ada calon tunggal sehingga memberikan pilihan politik yang baik bagi pemilih. Bahkan ada dua daerah yang menawarkan tiga hingga empat calon sehingga tingkat kompetitifnya sangat tinggi.

BACA JUGA : Pilkada DIY: Sanksi Tegas Menanti Kader PP yang Tak Netral 

"Cuma pertanyaan, apakah publik memilih berdasarkan basis figur ataukah program?," katanya saat dihubungi Harianjogja.com, Rabu (2/9/2020).

Menurut Wawan, dari sisi figur paslon yang maju sebagian dari figur lama. Baik bupati maupun wakil bupati, istri bupati atau pejabat lainnya. Sebagai petahana, kata Wawan, kekuatan utamanya adalah track record. Apalagi selama menjabat atau mendampingi pejabat ia bisa menghadirkan kepemimpinan atau program yang baik.

Figur di sini juga, kata Wawan, dikaitankan juga dengan basis sosial masing-masing paslon, entah itu NU, Muhammadiyah maupun organisasi masyarakat lainnya. Figur pada satu sisi menjadi penting untuk mendukung langkah paslon untuk meraih suara.

 "Meskipun begitu pilihannya tidak semata-mata [partai] lebih kuat figur atau program tetapi bagaimana kombinasi keduanya [figur dan program] tetap menjadi kunci untuk dipilih masyarakat," katanya.

Persaingan paslon di tiga Pilkada di DIY, menurut Wawan sama-sama ketat. Terutama di Sleman dan Bantul. Di Pilkada Sleman, majunya istri Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dan Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun punya peluang untuk meraih kemenang. Sebab keduanya memiliki akses yang sama ke klaster-klaster kunci. Baik ke sumberdaya, birokrasi maupun masyarakat.

BACA JUGA : Suara Milenial Jadi Andalan PSI Beri Dukungan Paslon

"Jadi persaingannya akan ketat. Termasuk juga yang paslon Danang-Choliq dengan basisnya. Ini akan ketat [persaingannya]," kata Wawan.

Di Pilkada Bantul, lanjutnya, persaingan paslon juga ketat. Sebab masing-masing paslon (bupati dan wakil bupati) memiliki akses yang sama ke klaster-klaster kunci. Ditambah dengan basis organisasi pendukung masing-masing. "Jadi meskipun dua paslon yang maju, tetapi sama-sama kuat," katanya.

Wawan justru melihat di Pilkada Gunungkidul persaingannya jauh lebih tidak ketat karena hanya satu petahana, Imawan yang mencalon diri dari. "Dibandingkan calon lainnya, saya melihat petahana lebih berpeluang. Sebagai incumbent lebih banyak peluang untuk menggerakkan basis di sana," ujarnya.

Meskipun menilai tingkat kompetisi di tiga wilayah Pilkada tersebut cukup tinggi, Wawan maka perlu ada strategi khusus yang dilakukan masing-masing paslon. Apalagi saat ini masa pandemi Covid-19 di mana ada larangan untuk mengundang kerumunan massa.

BACA JUGA : Sri Muslimatun-Amin Purnama Siap Hadapi Dua Pesaingnya

"Kandidat harus mengoptimalkan indirect campaign dengan menggunakan media digital maupun pendekatan langsung. Misalnya menghubungi langsung media dan memanfaatkan jaringan sosial yang dimiliki. Jadi pemanfaatan media massa menjadi kunci dibanding menggelar rapat akbar," katanya.