26 Kepala Sekolah di Jogja Tulis Pengalaman Tangani Pembelajaran dari Rumah

Walikota Jogja, Haryadi Suyuti meluncurkan buku "Pembelajaran dari rumah Pada Era Covid-19 di Jogjakarta : Pengalaman Baik Kepala Sekolah SMP pada Selasa (8/9/2020). - Harian Jogja/ Catur Dwi Janati
09 September 2020 00:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pemkot Jogja meluncurkan buku "Pembelajaran dari rumah Pada Era Covid-19 di Jogjakarta : Pengalaman Baik Kepala Sekolah SMP." Buku karya 26 Kepala Sekolah SMP dan MTsN itu diluncurkan langsung oleh Walikota Jogja, Haryadi Suyuti pada Selasa (8/9/2020) di Balai Kota Jogja.

Haryadi yang hadir meluncurkan buku tersebut mengatakan bahwa kreativitas dan inovasi tenaga pendidik sangat penting. Hadirnya buku berisikan pengalaman para tenaga pendidik ini menurut Haryadi sangat bagus. "Kenapa saya launching, untuk mengapresiasi teman-teman guru yang secara kreatif dan inovatif berinteraksi langsung dengan anak-anak," jelasnya pada Selasa (8/9/2020).

Baca juga: Syarat Bawa Surat Sehat Bagi Mahasiswa yang Ikut Kuliah Tatap Muka di Sleman Masih Berlaku

Haryadi berpendapat bahwa pada hakekatnya, tanpa guru anak-anak mau mencari ilmu kepada siapa. Guru-guru yang terlibat dalam penyusunan buku menuliskan pengalamannya dalam buku dan menurut Haryadi itu sangat bagus sekali. "Nanti akan saya sampaikan secara khusus kepada Menteri Pendidikan Republik Indonesia sebagai sebuah hal ini adalah karya," ujarnya.

Haryadi pun tidak menolak, justru meminta masukan dari Kementerian maupun dewan pengawas pendidikan apakah materi yang ada dalam buku sudah sesuai dengan apa yang diharapkan atau belum. "Tetapi ini bagus sekali dan ini wajib dibaca, bagus sekali," terangnya.

Baca juga: Kisah Warga Selomartani Tinggal di Gubuk, Sakit Belum Bisa Periksa ke Dokter

Atas terbitnya buku tentang pengalaman mengajar selama pandemi, Haryadi berharap buku tersebut mampu menjadi karya referensi dan memotivasi para guru dalam melaksanakan kegiatan BDR bersama siswa-siswinya.

"Kami menyediakan di Arsip Perpustakaan Daerah [Arpusda] jadi kalau membacanya di Arpusda, dicetak massal," terang Haryadi. Tidak hanya di Arpusda, buku ini rencananya juga akan tersedia di perpustakaan milik Pemkot Jogja.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Budi Asrori menyebutkan bahwa ternyata pembelajaran jarak jauh ini sangat kompleks antara lain mungkin masalah penguasaan teknologi dari guru dan kompetensi guru dalam melakukan pembelajaran daring. Masalah lain seperti sarana dan prasarana teknologi informasi yang ada di rumah, pendampingan orang tua dan sebagainya.

"Di tengah adanya keterbatasan gak tersebut, tidak mengecilkan semangat Kepala Sekolah guru, orang tua wali siswa untuk bahu membahu saling mengatasi permasalahan yang ada dalam proses belajar mengajar agar berjalan dengan baik," Tutur Budi.

Diterangkan Budi bagaimana para Kepala Sekolah tetap dapat mengoptimalkan kemampuan untuk menulis pengalaman pembelajaran jarak jauh di sekolahnya masing-masing menjadi sebuah buku. Menurutnya buku tersebut diharapkan dapat menjadi referensi pemangku kepentingan pendidikan bagaimana melaksankannya pembelajaran jarak jauh.

Misi lainnya diharapkan buku yang diterbitkan dapat menjadi arsip untuk pendidikan yang akan datang, merekam peristiwa belajar daring saat pandemi yang kini sedang terjadi. "Agar proses pembelajaran jarak jauh bisa dilihat secara luas oleh masyarakat dan bisa dijadikan sejarah dokumen untuk generasi yang akan datang," ujarnya.

Sehingga Budi berharap tetap anak-anak tetap mendapat layanan yang baik, anak tetap termotivasi untuk belajar. Efeknya Kota Jogja tetap mampu mempertahankan predikatnya sebagai kota pendidikan yang berkualitas.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Jogja, Widayat Umar menerangkan latar belakang pembuatan buku. Dia mengatakan bahwa ide awalnya saat para guru saat mengalami kesulitan, akhirnya semua berkreativitas dalam rangka pembelajaran anak-anak. Lalu muncullah keunikan dari para guru karena belum ada panduan pembelajaran daring. "Kita terus berkreasi untuk layanan pembelajaran jarak jauh agar menarik anak-anak," ujarnya.

"Sehingga banyak kreativitas para guru, karena kita sering diskusi di forum Kepala sekolah, tapi punya ide kecil, ini sangat eman-eman sekali kalau tidak didokumentasikan," ungkap Widayat. Akhirnya para kepala sekolah sepakat menyusun buku berisi tulisan pengalaman cerita baik mengajar selama pandemi.

Dari latar belakang tersebut disusun buku yang rampung dalam kurun waktu sebulan. Widayat mengatakan bahwa kendala yang dihadapi awalnya adalah kepercayaan diri dari para kepala sekolah.

"Karena belum punya pengalaman menulis buku, terus kami ajak mari apa yang dirasakan ditulis di buku tersebut awalnya 10 tulisan akhirnya kita dorong sampai 26 tulisan," jelasnya.

Dari tulisan tersebut Widayat mengatakan jika dia pengalaman antar sekolah ternyata berdampak bisa memanfaatkan cerita dari tenaga pendidik di sekolah lainnya.