Terdampak Pandemi, Pekerja Event Diberi Pelatihan Daring

Kegiatan pelatihan secara daring yang digelar Kemenparekraf dan Ivendo DIY, Jumat (18/9/2020). - Ist/Ivendo.
19 September 2020 10:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 100 pekerja event di wilayah DIY diberikan pelatihan daring melalui program Kemenparekraf. Pelatihan tersebut diharapkan bisa mengupgrade kemampuan dan melakukan inovasi untuk bertahan  di tengah pandemi karena lebih dari tiga bulan sebagian besar pekerja event tidak menggelar kegiatan.

Ketua DPD Dewan Industri Event Indonesia (Ivendo) DIY Ridho Sinto Mardaris menjelaskan program Kemenparekraf tersebut berlangsung di 11 kota di Indonesia, salah satunya Jogja, di mana setiap kota masing-masing 100 peserta. Para pesertanya melalui seleksi yang semuanya berasal dari pekerja event yang sudah beberapa bulan tidak ada pekerjaan karena pandemi.

BACA JUGA : Ingin Beraktivitas Kembali di Masa Pandemi, Pelaku Seni

“Melalui pelatihan ini ada beberapa tujuan, antara lain memberikan insentif kepada pelaku event setelah webinar Kemenparekraf akan mengirimkan bantuan berupa sembako dan voucher belanja. Sekaligus sebagai stimulus bagi industri event, karena beberapa ada yang istirahat sampai enam bulan sampai sekarang,” ungkapnya Jumat (18/9/2020).

Pelatihan digelar sejak Rabu (16/9/2020) hingga Jumat (18/9/2020). Tiga pemateri dihadirkan dalam pelatihan selama tiga hari, antara lain Ibnu Novel Hafid, GM Hotel Grand Keisha yang juga seorang pelaku event senior yang bercerita tentang event management. Kemudian Tovic Dwi Raharja, Managing Director dari Rajawali Indonesia Communication materi tentang  tentang show management dan Ridho Sinto Mardaris selaku Direktur GM Production Indonesia membahas dari sisi event production.

Ridho menambahkan, pekerja event terdampak yang berada di bawah naungan organisasinya terdapat sedikit 1.000 orang. Mereka sudah tidak bekerja antara tiga hingga enam bulan karena tidak ada event sama sekali. Beberapa di antaranya melakukan inovasi melalui virtual event sekaligus melakukan upgrade kemampuan SDM untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan event agar semua pekerja bisa siap.

Ia mengakui untuk gelaran event secara daring ini tidak bicara keuntungan tetapi asal bisa menutup biaya produksi. Belum lama ini pihaknya juga menggelar Nikah Bareng Virtual, Fashion Show Virtual dan Konser Virtual 3 Negara sebagai bagian dari upaya inovasi untuk bertahan di tengah pandemi.

“Seperti webinar misalnya kita tidak ada produksi backdrop dekorasi, biaya produksinya rendah, karena teknologi yang dipakai sudah banyak dikuasai generasi sekarang. Sehingga minimal bisa menutup biaya produksi. Sementara mengabaikan target keuntungan,” ucapnya.

BACA JUGA : Pemerintah Diminta Tak Abaikan Pekerja Seni

Oleh karena itu, para pekerja event diarahkan untuk berinovasi dengan studio mini dengan peralatan minim pun masih bisa dilakukan. Melalui studio sederhana masih bisa melakukan kegiatan daring seperti launching.

“Misalnya launching makanan suatu resto dengan mereview makanan industri kecil beberapa resto bersedia membayar dengan anggaran yang sudah disepakati, ini banyak yang melakukan,” katanya.

Terkait event virtual berbayar, kata dia, memang belum banyak dilakukan karena masih susah menemukan formula yang tepat. Mengingat masyarakat sudah terbiasa menonton seperti televisi yang tidak berbayar. “Memang di situasi saat ini dituntut kreatif, kami berharap  Kemenparekraf tetap mendukung pelaku event dengan kegiatan pelatihan semacam ini,” ujarnya.