Tak Punya Pilihan, Warga Tirtoadi Sleman Relakan Lahan untuk Proyek Tol

Ilustrasi - Antara/Asprilla Dwi Adha
28 September 2020 20:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Konsultasi publik rencana pengadaan tanah untuk pembangunan jalan Tol Jogja-Bawen memasuki desa terakhir pada Senin (28/9/2020) di Balai Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Warga Desa Tirtoadi merelakan lahan untuk digunakan menjadi lahan proyek Tol Jogja-Bawen.

Lurah Tirtoadi, Sabari, mengatakan di Desa Tirtoadi tercatat ada 277 bidang tanah terdampak Tol Jogja-Bawen yang terdiri dari rumah warga, pekarangan, dan persawahan. Dalam tahapan konsultasi publik ini, ada 240 warga yang diundang untuk hadir ke balai desa menyatakan kerelaannya.

"Ada 240 warga terdampak yang kami undang dalam konsultasi publik selama dua hari sampai Selasa [29/9/2020]. Sebenarnya prosesnya cepat, bisa langsung selesai kalau kami undang semua, tapi mengingat protokol kesehatan kami bagi empat sesi sampai besok," kata Sabari di sela-sela proses konsultasi publik.

Menurutnya, tak ada yang bisa dilakukan warga selain menerima rencana proyek tol ini dan merelakan tanahnya. Sebelumnya, ratusan warganya juga sudah merelakan tanahnya untuk dilintasi Tol Jogja-Solo. Ada 561 bidang terdampak proyek tol ini.

"Kami legawa, sebagai warga hanya bisa menerima proyek pusat. Harapannya dengan ganti untung itu bisa menyejahterakan warga," ungkap Sabari.

Desa Tirtoadi di Sleman ini rencananya akan menjadi lokasi simpang susun tiga trase tol, antara lain Tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen, dan Jogja-Cilacap. Menurut Sabari, trase yang disebutkan terakhir rencananya akan melintasi 128 bidang terdampak.

"Dari banyak bidang terdampak ini kami jadi harus bedol desa," kata dia.

Dari trase Tol Jogja-Bawen saja, ada lima pedukuhan yang terdampak, yaitu Dusun Sanggrahan, Pundong 1, Pundong 2, Pundong 3, dan Pundong 4. "Sanggrahan yang kena dua sampai tiga RT, ada dua RT yang harus bedol desa," tambah dia.

Kendati banyak warga terdampak, ia tak ingin merelokasi warganya karena tak ingin muncul anggapan negatif. “Nanti kalau sudah dapat ganti untung, mangga dicari sendiri lahan penggantinya," imbuh Sabari.

Sabari mengatakan dalam proyek pemerintah, warga hanya bisa merelakan lahannya untuk diikutsertakan dalam proyek. "Kami hanya bisa legawa," ujarnya lagi.

Selain tahapan konsultasi publik untuk proses terkait rencana pembangunan Tol Jogja-Bawen, Sabari juga tengah menunggu informasi lanjutan dari Pemda DIY terkait tahapan pematokan untuk trase Tol Jogja-Solo. "Sepertinya kami jadi desa terakhir untuk pematokan Tol Jogja-Bawen, terakhir saya tahu baru sampai Desa Purwomartani [Kecamatan Kalasan]," ujarnya.

Salah seorang warga Tirtoadi, Sudiran yang ditemui di Balai Desa Tirtoadi menuturkan sawahnya yang luasannya 441 meter persegi sudah ia relakan dilintasi Tol Jogja-Bawen. "Sudah ikhlas, bagaimana lagi kalau enggak [rela]?" ungkap warga Dusun Jembangan ini.

Ia bersyukur masih bisa punya lahan lain yang masih bisa ia garap selain lahannya terdampak. "Masih sekitar 1.200 meter, cukup buat makan," ujar Sudiran. Info yang diperolehnya soal proses selanjutnya, kata Sudiran, Juni 2021 mendatang akan berlanjut proses ganti rugi.

Sudiran menuturkan berencana menggunakan hasil ganti rugi untuk digunakan dalam usaha lainnya. Sebab, saat ini ia masih memiliki lahan pertanian. "Buat usaha lain saja," ujarnya