KABAR WISATA: Kisah Haru Kepulangan Soedirman dari Gerilya di Pameran Memorabilia Vredeburg

Relief yang dipamerkan di Museum Benteng Vredeburg dalam pameran Refleksi di Balik Memorabilia Perjuangan, Rabu (10/11/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
11 November 2020 14:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jika anda ingin berwisata sembari menambah pengetahuan tentang peran Jogja dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, mengunjungi Museum Benteng Vredeburg bisa menjadi salah satu alternatif. Mulai 10 Nopember hingga 10 Desember 2020 digelar pameran temporer baik secara daring maupun luring.

Salah satu yang menarik adalah ditampilkannya relief di sepanjang halaman tengah Museum Vredeburg tentang kondisi Jogja di masa perang kemerdekaan sampai pada kisah haru kembalinya Soedirman dari gerilya. Jogja pernah menjalani masa-masa sulit menjadi kota yang diincar musuh untuk dihancurkan saat berposisi sebagai Ibu Kota Negara RI. Relief karya seniman ISI Jogja Yusman itu terdiri atas 11 papan cerita dan belum pernah dipamerkan di Jogja.

BACA JUGA : Wisata Museum Benteng Vredeburg Akan Dibuka Secara

Relief bercerita tentang pengambilan sumpah Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Rakyat Indonesia (TRI) pada 25 Mei 1946. Dilanjutkan dengan Perjanjian Renville yang terdiri atas Amerika Serikat, Australia dan Belgia yang menengahi konflik RI dan Belanda namun hasilnya merugikan Indonesia. Di mana saat itu daerah RI semakin mengecil hingga timbul pro dan kontra dalam negeri. Selanjutnya TNI hijrah atau menarik diri dari lokasi gerilya untuk memenuhi isi perjanjian Renville.

Jogja berada dalam masa sulit dan pernah terjadi kehancuran di beberapa titik karena adanya serangan Belanda terhadap Ibu Kota RI di Yogyakarta yang diawali dengan pemboman Lapangan Terbang Maguwo oleh lima pesawat Mustang dan Kittyhawk Belanda. Di mana saat itu pertahanan RI di Maguwo hanya 150 orang dengan persenjataan yang sangat minim.

Detik terakhir sebelum Yogyakarta jatuh ke tangan musuh, Panglima Besar Soedirman menghadap Presiden Soekarno untuk menyampaikan kesiapan pasukan bergerilya dan mengungsikan pimpinan. Namun Soekarno menolak diungsikan dan meminta Soedirman agar tetap tinggal di Kota Yogyakarta untuk perawatan sakitnya. Namun Soedirman menjawab, “tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah saya,”. Soedirman pun mulai bergerilya meninggalkan Kota Jogja.

BACA JUGA : Di Tengah Pandemi, Museum Dituntut Beradaptasi dengan

Pengorbanan Bu Dirman diungkapnya pada relief tersebut yang memberikan perhiasannya sebagai bekal untuk gerilyawan. Perhiasan itu diberikan oleh utusannya Hanum dan diambil oleh Kopral Aceng yang Kembali ke Jogja. Perjalanan gerilya Soedirman dari Playen ke Semanu naik dokar yang ditarik dua orang pengawalnya yang terjadi pada 21-22 Desember 1948. Pada jalur yang tidak bisa dinaiki dokar, Soedirman yang dalam kondisi sakit itu ditandu oleh anak buahnya.

Relief juga menceritakan seputar serangan umum 1 Maret yang menunjukkan keberadaan TNI masih ada. Komunikasi dengan pemerintah darurat dan perundingan Roem Royen yang berisi tentang gencatan senjata dan penarikan Belanda dari Yogyakarta. Hingga penarikan Tentara Belanda dari Indonesia sebagai realisasi dari Dewan Keamanan PBB yang mengharuskan Indonesia dan Belanda untuk menghentikan permusuhan.

Relief ini ditutup dengan kisah haru kepulangan Jenderal Soedirman ke Kota Jogja dari lokasi gerilya. Mengingat Soedirman sebenarnya tidak setuju dengan Perjanjian Roem Royen yang menyatakan perang selesai. Bung Karno, Sri Sultan HB IX dan Letkol Soeharto membujuk Soedirman agar kembali ke Yogyakarta bersama pasukannya. Surat dari Kolonel Gatot Soebroto yang menyentuh hati Soedirman bersedia Kembali ke Yogyakarta.

Soedirman pun kembali ke Yogyakarta pada 10 Juli 1949 disambut rakyat di Alun-Alun utara Yogyakarta, sebelumnya dijemput di Kawasan Prambanan yang sepanjang jalan disambut berjejal rakyat. Cerita heorik secara lengkap itu bisa dinikmati secara langsung di Vredeburg.

“Relief ini dibuat melalui penelitian panjang dengan melibat pakar, guru besar sejarah di berbagai kampus di Indonesia. Harapannya bisa memberikan informasi kepada masyarakat terutama generasi muda, karena ada peristiwa yang tidak banyak diketahui,” ungkap Pembuat Relief Yusman di sela-sela pembukaan Pameran Hari Pahlawan di Benteng Vredeburg, Selasa (10/11/2020).

BACA JUGA : 35 Destinasi Wisata di DIY Dapat Bantuan 

Kepala Museum Benteng Vredeburg Suharja mengatakan pameran bertajuk Refleksi di Balik Memorabilia Perjuangan itu digelar untuk memperingati Hari Pahlawan. Selain menampilkan relief, pameran juga menyuguhkan berbagai koleksi tentang tokoh pahlawan yang jarang diketahui ceritanya oleh masyarakat namun memiliki peran penting di tengah masyarakat.

“Melalui benda koleksi para pejuang dan foto perjuangan harapannya bisa menguatkan rasa nasionalisme. Masyarakat terutama pelajar bisa melihat relief dan koleksi di pameran ini sebagai bentuk edukasi,” katanya.

Selain bisa dinikmati secara langsung dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, berbagai koleksi tersebut juga bisa dilihat secara online di berbagai platform media sosial Museum Benteng Vredeburg. Sehingga dengan tetap berada di rumah masyarakat bisa menikmati sajian pameran temporer.

BACA JUGA : Museum Vredeburg dan Museum Dirgantara Jadi Tujuan

“Pameran ini dikolaborasikan dengan patung dan relief karya seniman patung Bapak Yusman, harapannya bisa saling melengkapi dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang perjuangan kemerdekaan terutama di Jogja,” katanya.