Apoteker Harus Lakukan Transformasi Struktural Pelayanan Kefarmasian

Rektor USD, Johannes Eka Priyatma saat memberikan sambutan saat pelantikan dan pengambilan sumpah janji sebagai apoteker di USD Kampus III, Paingan, Condongcatur, Depok, Rabu (11/11/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
11 November 2020 23:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 70 mahasiswa lulusan Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja diambil sumpah janji sebagai apoteker, Rabu (11/11/2020). Pengambilan sumpah janji tersebut digelar secara virtual dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Sumpah janji apoteker digelar di USD Kampus III, Paingan, Condongcatur, Depok. Selain pimpinan universitas, perwakilan sejumlah instansi dan Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia, kegiatan tersebut juga dihadiri rohaniawan dari masing-masing agama mulai Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Rektor USD, Johannes Eka Priyatma, berharap pelantikan dan sumpah janji yang digelar di tengah pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi apoteker untuk menjadi apoteker yang profesional. Dia berharap apoteker menjadi bagian untuk mencegah paparan virus Covid-19. Salah satu caranya dengan menjalankan transformasi struktural pelayanan kefarmasian.

Menurutnya, virus Corona telah menimbulkan banyak duka dan nestapa. Selain melaksanakan prokes secara ketat, langkah efektif yang dapat dilakukan yakni memanfaatkan teknologi informasi untuk mengganti interaksi dan komunikasi fisik langsung menjadi virtual (jarak jauh).

Interaksi dan komunikasi virtual, katanya, membawa beberapa persoalan seperti tidak terjaminnya otentisitas sehingga menuntut ketersediaan infrastruktur yang baik. Persoalan lainnya, kesiapan dan kemampuan memakai teknologi digital serta kurangnya nuansa formal. Meskipun begitu, model interaksi virtual juga membuka berbagai peluang baru seperti hilangnya hambatan ruang dan waktu, meningkatnya fleksibilitas dan efesiensi serta menurunnya emisi karbon karena berkurangnya perjalanan fisik.

"Dalam situasi yang dilematis ini, salah satu sikap yang baik untuk diambil sebagai apoteker profesional adalah menetapkan prioritas, terbuka terhadap gagasan dan kemungkinan baru serta menyiapkan diri untuk terus belajar," katanya.

Dekan Fakultas Farmasi USD, Yustina Sri Hartini, mengatakan praktik kefarmasian memiliki peran dalam menjamin terpenuhinya kriteria sediaan farmasi yang baik. Demi kepentingan kesehatan masyarakat, maka khasiat, keamanan dan mutu setiap sediaan farmasi harus diverifikasi. Pengujian tersebut harus dilakukan dalam kondisi esperimental maupun klinis dengan metode yang telah divalidasi. "Ilmu kefarmasian yang selama ini diperoleh harus menjadi based line untuk pembelajaran berkelanjutan di masa mendatang. Tingkatkan kinerja apoteker Indonesia," kata Yustina.

Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Nanang Munif Yasin berharap apoteker memiliki bekal yang istimewa salah satunya bekal SIAP (Skill, Inovation, Attitude dan Profesional). "Semoga apoteker yang baru dilantik dapat bermanfaat bagi masyarakat, bekerja dalam kebersamaan dan persaudaraan," katanya.