Merapi Siaga, Begini Nasib Pelaku Usaha di Kaliurang

Salah satu pedagang makanan di Tlogo Putri Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Rati, 60, warga Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman, saat membuat wajik di toko miliknya. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo.
16 November 2020 09:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, PAKEM--Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata Kaliurang, Pakem, Sleman berdampak terhadap pendapatan pelaku usaha baik pedagang maupun driver jip wisata Merapi. Penurunan wisatawan seiring ditetapkannya status Gunung Merapi menjadi siaga (level tiga).

Sejumlah kios di Tlogo Putri Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman berdasarkan pantauan Harian Jogja pada Minggu (15/11/2020) tutup. Tidak semua lapak menjajakan dagangan baik itu oleh-oleh maupun makanan. Sejumlah Jip Wisata Merapi juga terlihat hanya terparkir. Driver juga hanya menunggu wisatawan untuk menyewa mobil jip mereka.

BACA JUGA : Merapi Siaga, 30 Dusun Ada di Daerah Bahaya, Ini Daftarnya

Salah satu driver Jip Wisata Merapi di objek wisata Tlogo Putri yakni Eko Budi Pramono, 43, warga Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman mengatakan jika kenaikan status Gunung Merapi menjadi siaga (level tiga) turut berdampak terhadap kunjungan wisatawan ke Tlogo Putri, Kaliurang, Pakem, Sleman.

"Status siaga tetap ada pengaruhnya. Pengaruhnya banyak. Bisa dibilang ini ya enggak ada pengunjung atau sepi. Tapi kalau kemarin-kemarin sebelum ada status siaga ya bisa untuk cukupi kebutuhan sehari-hari. Status siaga [Gunung Merapi] ini kayak nggantung. Jadi di sisi lain kami ingin cari rejeki, tapi tidak ada pengunjung," ujar Eko saat diwawancarai di objek wisata Tlogo Putri, Kaliurang, Pakem, Sleman, Minggu (15/11/2020).

Sebelum status Gunung Merapi berubah menjadi siaga level tiga, dirinya bisa mengantarkan wisatawan yang menyewa jip miliknya sekitar dua sampai tiga kali dalam satu hari. Akan tetapi, ketika Gunung Merapi berubah status menjadi siaga level tiga, Eko mengaku hanya satu kali mengantarkan wisatawan.

"Sebelum status Gunung Merapi itu berubah menjadi siaga level tiga, dalam satu hari itu kami bisa mengantarkan wisatawan sebanyak dua sampai tiga kali, apalagi kalau ada long weekend. Sedangkan, sekarang dalam satu pekan hanya satu kali mengantarkan wisatawan," ucapnya.

BACA JUGA : Merapi Siaga, Polisi Kerahkan 3.500 Personel untuk Evakuasi 

Rute Wisata Jip Merapi juga diubah oleh Eko dan driver Jip Wisata Merapi yang tergabung dalam Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM). Rute Jip Wisata Merapi mengikuti jarak aman dari BPPTKG yakni lima kilometer dari puncak Gunung Merapi. Penyesuaian rute juga merupakan keputusan dari AJWLM yang merupakan payung komunitas Jip Wisata Merapi.

"Rute juga ikut berubah untuk jarak aman kita ikuti dari BPPTKG, untuk jarak luncuran sekarang kan lima kilometer. Akhirnya kita hanya di batu (bakalan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Mini Museum, dan trek air Jadi, rute dulunya bisa short, nah sekarang kita sekarang mini short," terangnya.

Driver Jip Wisata Merapi juga sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu Merapi erupsi. Driver sudah dibelah kesiapan mitigasi bencana Merapi. Akan tetapi, bagi driver yang tidak siap melakukan evakuasi karena punya trauma terhadap erupsi Gunung Merapi 2010 silam juga tidak dimasukkan dalam tim evakuasi Jip Wisata Merapi.

"Jip evakuasi nanti dipersiapkan. Driver kan bukan dari warga Kaliurang saja, ada juga driver yang dari sekitar Kali Boyong. Teman-teman sudah paham soal jalur evakuasi. Kalau ada driver yang trauma ya tidak kita masukkan ke tim evakuasi," terang Eko.

BACA JUGA : Antisipasi Erupsi, Warga Lereng Merapi Siaga 24 Jam

Salah satu pedagang makanan di Tlogo Putri Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Rati, 60, warga Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman mengaku jika ia kehilangan omzet yang cukup signifikan seiring dengan meningkatnya status Gunung Merapi yang berdampak terhadap penurunan jumlah wisatawan.

"Setiap hari paling banyak ada empat mobil. Nggak mesti beli juga. Kalo beli cuma Rp10.000 sampai dengan Rp20.000. Padahal,  pengeluaran banyak. Anak sekolah butuh bensin, cucu juga minta jajan," katanya.

Sebelum status Gunung Merapi menjadi siaga level tiga, Rati bisa mengumpulkan pundi-pundi uang sekitar Rp50.000. Sekarang, untuk mendapatkan Rp10 ribu saja ia kesulitan setengah mati.

"Sehari dulu bisa dapat Rp50.000. Kalau seperti ini mau cari Rp10.000 juga sudah bagus. Kalau orang jualan di sini karena telaten. Kalo nggak telaten ya nggak dapet apa-apa. Kalau ada pengunjung ditunggu nggak ada ya ditunggu," pungkas Rati.