Warga di Sleman Mengaku Buta Visi Misi Paslon Pilkada

Ilustrasi. - Freepik
29 November 2020 23:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Visi misi dari masing-masing pasangan calon (Paslon) yang berlaga di dalam Pilkada Sleman 2020 dinilai belum begitu sampai ke masyarakat. Sehingga, sebagian warga tidak mengenal betul program konkret dari setiap paslon yang ingin maju menjadi kepala daerah di Bumi Sembada.

Salah satu warga Sleman, Wijaya Kusuma, 35, Sidoarum, Godean, Sleman, mengatakan jika berdasarkan pandangan pribadinya, paslon yang berlaga dalam Pilkada Sleman 2020 kali ini tidak ada yang menawarkan program yang konkret. Sehingga ia mampu tergerak untuk memilih salah satu paslon tersebut.

"Kampanye belum menyentuh ke masyarakat. Program tidak jelas, konkretnya mau gimana. Mau menyejahterakan rakyat, tapi ya semua calon bisa ngomong begitu," ujar Wijaya saat diwawancarai pada Minggu (29/11/2020)

Padahal, langkah konkret bisa dilakukan oleh masing-masing pasangan calon melalui penawaran visi misi mereka. Warga, menurut Wijaya, mampu menilai jika visi misi paslon tidak hanya sebatas wacana. Warga bisa menentukan sikap jika visi misi dari paslon masuk akal dan mampu terealisasi.

"Jadi tidak hanya sebatas wacana. Bahkan, tidak ada program konkret yang ditawarkan ke masyarakat. Warga kan bisa menilai apakah visi misi paslon masuk akal atau hanya sekedar janji janji kampanye. Sehingga warga tergerak untuk memilih salah satu paslon yang berlaga dalam Pilkada Sleman 2020," terangnya.

Pandemi Covid-19, menurut Wijaya, bukan menjadi alasan bagi paslon untuk tidak bisa menyentuh masyarakat dalam upaya memberikan sosialisasi program maupun visi misi untuk maju sebagai kepala daerah kabupaten Sleman.

"Calon bisa webinar di satu desa, dialog dengan warga, tidak secara pertemuan langsung, harusnya lebih adaptif. Warga sebagian besar kan punya handphone, walaupun banyak yang sepuh sepuh juga. Generasi millenial kan banyak yang punya handphone kan bisa ikut webinar melalui zoom, Google Meet maupun live YouTube maupun Instagram," ujar Wijaya yang mengaku kemungkinan besar akan golput dalam Pilkada Sleman 2020 ini.

BACA JUGA: Menteri Luhut Bakal Izinkan Lagi Ekspor Benih Lobster

Sementara itu, warga Sleman lainnya, Hari Wawan, 27, warga Glagaharjo, Cangkringan, Sleman juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, visi misi tiga paslon yang berlaga dalam Pilkada Sleman 2020 tidak jelas.

"Visi misi tidak jelas, bahkan saya tidak tahu sama sekali. Sebenarnya ketika calon itu bilang mau membangun Sleman, visi misinya juga harusnya dengan jelas disampaikan ke masyarakat," terangnya.

Ia sadar paslon tidak bisa mengumpulkan massa yang begitu banyak dikarenakan saat ini tengah berlangsung pandemi Covid-19 yang mana kerumunan sebisa mungkin harus dihindari demi meminimalisir terjadinya penularan Covid-19.

"Tapi kan ada namanya teknologi, masak paslonnya gak ngerti, ya anda bisa menilai sendiri lah. Calonnya mengetahui teknologi atau tidak. Padahal, mereka mengusung konsep millenial. Sebenarnya paham gak dinamika millenial seperti apa," pungkas Hari.

Pilkada Sleman sendiri bakal digelar pada 9 Desember mendatang. Pilkada Sleman memunculkan tiga paslon bupati dan wakil bupati, yakni paslon Danang Wicaksana Sulistya-Agus Kholik yang mendapat urutan nomor satu. Sementara, Sri Muslimatun-Amin Purnama mendapat nomor urut dua. Di urutan terakhir, Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa mendapat urutan nomor tiga.