Minat Pria di Kulonprogo Ikuti Program KB Masih Rendah

Foto Ilustrasi.
07 Desember 2020 06:47 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Minat kaum pria di Kulonprogo untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) melalui penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang masih rendah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMDP2KB) Kulonprogo, Sudarmanto mengatakan dibandingkan kaum perempuan, keikutsertaan pria dalam program KB lewat berbagai metode jangka panjang seperti vaksetomi dan suntik masih sangat minim.

Merujuk data 2019, prosentase pria yang mengikuti program KB begitu timpang dibanding perempuan. Adapun perempuan yang ikut KB sebesar 70%, sementara pria hanya 10%. Sisanya yaitu 20% sama sekali tidak mengikuti program tersebut. 

BACA JUGA : Kota Jogja Layani KB Proaktif di Masa Pandemi Corona

"Keikutsertaan KB pria di Kulonprogo masih kecil. Adapun di masa pandemi ini partisipasinya [pria dalam program KB] juga berkurang, tetapi di aspek yang partisipasi yang berkurang itu kita dorong yang dari aspek perempuan," ujar Sudarmanto, Minggu (6/12/2020).

Dia menjelaskan selama ini peminat program KB didominasi oleh kaum perempuan dengan berbagai macam metode, mulai dari penggunaan IUD, Implan dan lain sebagainya.

Kendati begitu kepesertaan laki-laki dalam KB ini akan terus didorong oleh jawatan tersebut, khususnya perihal metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), yakni melalui vaksetomi. Metode ini disebut ampuh untuk menekan tingkat kehamilan sehingga upaya pengendalian populasi penduduk dapat terlaksana.

Sudarmanto meyakini di masa mendatang keikutsertaan pria dalam program KB bisa meningkat seiring dengan munculnya metode-metode baru pencegahan kehamilan yang dikeluarkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat. Salah satunya adalah pil KB yang dikhususkan untuk pria.

BACA JUGA : Kalurahan Bugel Kulonprogo Bakal Jadi Percontohan 

"Dengan adanya upaya-upaya dari BKKBN pusat untuk menemukan cara yang lebih baik dan diterima oleh kelompok pria sebagai bagian dari kepesertaan KB pria, san sekarang secara bertahap akan dilakukan dengan pil KB pria," ucapnya.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak pada program pengendalian penduduk. Terlebih pada pelayanan kontrasepsi yang mengalami penurunan peserta. Imbas dari hal ini tak sedikit masyarakat yang putus menggunakan alat kontrasepsi baik yang menggunakan metode suntik maupun pil KB.

"Padahal setiap 100 orang putus itu yang 15 hamil di dua bulan pertama. Bisa dibayangkan kalau yang putus seribu bisa berapa yang hamil, sampai 150-an kan. Padahal kalau dihitung-hitung yang putus itu bisa sekitar 3 juta," ujarnya.

Menyikapi hal itu BKKBN menggencarkan pelayanan kontrasepsi secara door to door. Jika dulu Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) tidak boleh membawa obat, sekarang sudah diizinkan untuk diantar ke rumah-rumah.

BACA JUGA : Sosialisasi Pendidikan Kependudukan Digelar di Kampung 

"Terus sekarang itu pelayanannya sedikit tapi banyak. Jadi disebar di seluruh Indonesia. Makanya waktu itu kita adakan satu juta akseptor itu ya kita tempuh bisa 1,3 juta dalam waktu sehari. Lalu kita gratis kan semua pelayananan kontrasepsi," ujarnya.