Harga Ikan Bawal Laut Naik Jelang Imlek, Rp250.000 Per Kg

Sejumlah nelayan membongkar ikan dari kapal yang merapat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, Kecamatan Girisubo, belum lama ini. - Istimewa/Dokumen DKP DIY
17 Januari 2021 16:37 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Nelayan di Pantai Selatan Bantul mendapatkan berkah tersendiri di tengah Pandemi Covid-19 dan menjelang tahun baru China/ Imlek 2021. Sebab, harga ikan bawal laut tangkapan mereka mengalami kenaikan mencapai Rp250.000 per kilogram.

Nelayan Pantai Samas yang berasal dari Srigading, Sanden, Mugari menyatakan, kenaikan harga ikan bawal jelang tahun baru Imlek 2021 bukanlah hal baru. Sebab, kenaikan harga ikan tersebut biasa dialami setiap menjelang tahun baru Imlek.

“Untuk saat ini sekilogram harganya mencapai Rp250.000 di tingkat tempat pelelangan ikan (TPI) Pantai Samas,” kata Mugari, Minggu (17/1/2021).

Baca juga: Langgar PTKM, Acara Hajatan di Gunungkidul Dibubarkan Petugas

Lebih lanjut Mugari mengungkapkan, kenaikan ikan bawal laut ini tidak memberi dampak kepada kenaikan jenis ikan lainnya. Ia menduga kenaikan ikan bawal laut lebih disebabkan karena tingginya permintaan dari Tiongkok atas komoditas ekspor jenis ikan ini.

“Lainnya tidak naik. Seperti Ikan tenggiri masih Rp35.000 per kilogram, layur super juga masih Rp28.000,” ungkap Mugari.

Sementara nelayan Pantai Samas lainnya, Henri berharap agar harga ikan bawal laut tetap tinggi jelang Imlek 2021. Sebab, pada Imlek 2020, permintaan ikan bawal laut dari Tiongkok justru mengalami penurunan. Hal ini, disinyalir karena pada saat itu, awal pandemi Covid-19.

Baca juga: Sejumlah Selter Covid-19 di Bantul Penuh, Pemkab Minta Selter Kalurahan Diaktifkan

“Akibatnya, ekspor tidak berjalan. Jalan satu-satunya, hasil tangkapan yang biasa diekspor harus dikonsumsi warga lokal saja,” terangnya.

Kendati mengalami kenaikan, baik Mugari maupun Henri menyatakan untuk mendapatkan ikan bawal laut saat ini cukup sulit. Sebab, gelombang laut saat ini cukup sulit diprediksi.

“Sehingga agak susah. Terkadang dalam satu pekan, kami hanya bisa melaut tiga hari, karena sisanya gelombang dan angin tidak bersahabat,” ucapnya.