Anggaran Transfer ke Daerah Turun, Ekonom Soroti Resentralisasi
Anggaran Transfer ke Daerah turun dari Rp848,52 triliun pada 2025 menjadi Rp727,2 triliun pada 2026. Ekonom menyoroti risiko resentralisasi.
Penampakan salah satu sungai di sekitar Gunung Merapi, dalam pemantauan dari udara BPPTKG dan BPBD DIY, Kamis (26/11/2020).-Ist Humas Pemda\r\n
Harianjogja.com, JOGJA--Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Yogyakarta terus mengintensifkan pemantauan kondisi hulu Sungai Code karena erupsi Gunung Merapi masih berlangsung namun hingga saat ini belum ada peningkatan potensi banjir lahar hujan di aliran sungai tersebut.
“Pemantuan kami lakukan di Sungai Boyong. Sampai saat ini, kondisi masih cukup terkendali dan belum ada kenaikan potensi banjir lahar dingin, meskipun puncak Merapi kerap diguyur hujan lebat,” kata Kepala BPBD Kota Yogyakarta Nur Hidayat di Yogyakarta, Selasa (2/2/2021).
Menurut dia, peningkatan potensi ancaman banjir lahar dingin di Sungai Code akan terjadi apabila tinggi air sungai di hulu mencapai angka 70, namun hingga pemantauan terakhir diketahui ketinggian air sungai maksimal berada di angka 30.
Ketika ketinggian air sungai berada di angka 70, maka dalam waktu sekitar 30 menit, aliran sungai yang cukup deras dan biasanya membawa berbagai material akan sampai di Sungai Code yang berada di wilayah Kota Yogyakarta.
“Saat itu, maka bisa terjadi luapan air sungai ke wilayah permukiman di sepanjang bantaran Sungai Code dan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan aliran di Sungai Winongo dan Gajah Wong,” katanya.
Saat terjadi peningkatan aliran atau ketinggian air sungai, maka petugas di posko pengamatan akan segera memberikan informasi ke posko di Kota Yogyakarta untuk diteruskan ke warga yang berada di bantaran sungai untuk melakukan antisipasi.
Forum kampung tangguh bencana (KTB) yang ada di tiap wilayah, lanjut dia, juga digiatkan untuk selalu siap siaga memantau kondisi di sungai.
BACA JUGA: Sempat Batuk dan Diare, Anak Bupati Sleman Positif Covid-19
“Peralatan untuk menunjang kesiapsiagaan bencana pun dipastikan dalam kondisi yang baik. Kami memiliki peralatan ‘early warning system’ (EWS) di 16 titik dan semuanya dalam kondisi baik,” katanya.
Jika arus atau ketinggian air di sungai mulai mengalami kenaikan, maka EWS akan memberikan peringatan agar warga di bantaran sungai segera melakukan langkah antisipasi seperti berkumpul ke titik evakuasi.
“Beberapa bencana yang juga harus diaantisipasi adalah kondisi cuaca karena adanya potensi kenaikan curah hujan serta cuaca esktrim yang bisa menimbulkan angin kencang dan berakibat pada pohon tumbang,” katanya.
Antisipasi yang disiapkan adalah memastikan seluruh peralatan penunjang seperti gergaji mesin dan peralatan pendukung lainnya yang sudah dimiliki masing-masing KTB berfungsi baik. “Kami minta KTB untuk memastikan seluruh peralatan yang mereka miliki dalam kondisi baik supaya bisa digunakan saat dibutuhkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Anggaran Transfer ke Daerah turun dari Rp848,52 triliun pada 2025 menjadi Rp727,2 triliun pada 2026. Ekonom menyoroti risiko resentralisasi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menunjuk Wakil Bupati Klaten Mahanni Yulindha Pratiwi sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Klaten
Sebanyak 283.270 kasus ISPA tercatat hingga 13 Oktober 2026. Simak lima kota dengan kualitas udara terburuk dan cara melindungi kesehatan.
Kebakaran Pegunungan Argopuro masih terpantau hingga Minggu pagi. Petugas memadamkan api di area terjangkau dan menghindari lokasi berisiko.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengembangkan konsep aglomerasi wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening (Bokor) untuk memperluas daya tarik pariwisata
KH Syukron Ma’mun, pendiri Ponpes Daarul Rahman, wafat di Jakarta Selatan setelah menjalani perawatan akibat gangguan jantung.