Testing Covid-19 di Bantul Kembali Tinggi, Kemampuan 1.000 per Minggu

Petugas medis melakukan rapid tes antigen COVID-19 kepada calon penumpang Kereta Api (KA) di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Senin (21/12/2020). - ANTARA FOTO/Galih Pradipta
20 Februari 2021 05:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Kepala Dinas Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja menyebutkan angka testing Cocid-19 kembali ditingkatkan setelah sebelumnya sempat menurun pasca dikeluarkannya aturan kontak erat tak bergejala tidak perlu menjalani swab. Kini angka testing di Bantul berkisar di 700-1.000 testing per minggu.

"Ya cuma kemarin kendalanya ada kebijakan hanya bergejala saja [yang dites], itu kemudian yang menghambat kami pada saat lagi masif-masifnya [testing], agak ngerem tapi sekarang sudah kita mulai lagi," jelasnya Jumat (19/2/2021).

Diterangkan Agus kemampuan testing Bantul bisa mencapai 1.000 testing per minggu. Jumlah tersebut sesuai arahan WHO yang menganjurkan testing satu persen per minggu. "1.000 per minggu cukup, termasuk fasilitasnya laboratoriumnya. Karena oleh BPPTKL kita diberi kuota 700 per minggu. Kemudian kami punya laboratorium mobil PCR kapasitas kami kalau biasa aja bisa 56 perhari, kali lima hari sudah [kurang lebih] 250, sudah cukup seminggu. Kalau pun nanti ada peningkatan kita bisa 112 per hari jadi seminggu bisa 500-600 [testing via mobil PCR]. Saya kira sudah memadahi untuk kapasitas testing kita," tuturnya.

Baca juga: Stok Vaksin Covid-19 di DIY Tak Sebanding dengan Jumlah Penerima, Ini Datanya!

Agus menegaskan upaya yang dilakukan terstruktur dengan melakukan 3T secara masif. "Kalau belakangan ini rata-rata kita kejar sampai di 700-1.000 testing per minggu, rata-rata itu. Tetap kita kejar sampai 1000, tetap sesuai dengan kasus. Kalau [semakin] ke sini kan kasus banyak, jadi kita lihat tiga selter kabupaten kita hampir penuh semua," imbuhnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy menyebutkan jika angka kasus yang masih tinggi saat pelaksanaan mikro bukan kesalahan melainkan 3T yang digencarkan di level terkecil. "Bukan salah, justru sekarang 3T kan digencarkan sekarang. 3T sekarang kan sesuai dengan perintah presiden dilakukan di level terkecil, sampai tingkat RT RW kalau ada gejala langsung ditracing. Dengan begitu maka akan terkumpul kasus kan," jelasnya.

Muhadjir juga menyebut jika selama ini kalau kasusnya tidak banyak itu karena laten, tidak terangkat atau di bawah permukaan. "Tes dalam rangka untuk melakukan 3T masih kecil dan sekarang dengan perintah 3T supaya ada di level paling bawah maka terjadilah ketahuan banyak kasus. Justru kita bisa menyelesaikan dengan tuntas karena kita tahu persis kasusnya," ujarnya.

Baca juga: Beda Sikap, Pedagang Informal di Malioboro Tak Sepakat dengan Pergub Larangan Demo

Menurut peninjauan Muhadjir di beberapa PPKM Mikro  berjalan memuaskan. "Beberapa tempat sangat memuaskan pelaksanaan PPKM mikro ini," tandasnya.