Berhasil Diketahui, Kubah Lava Kedua Gunung Merapi Ternyata Lebih Besar dari Sebelumnya

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
20 Februari 2021 16:47 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Gunung Merapi telah ditetapkan memiliki dua kubah lava sejak 4 Februari lalu. Namun karena kendala cuaca, pengukuran kubah lava baru bisa dilakukan pada Rabu (17/2/2021) lalu. Hasil pengukuran menunjukkan volume kubah lava yang berlokasi di tengah kawah ini lebih besar dari kubah lava pertama.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengambangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan berdasarkan analisis foto morfologi, tercatat volume kubah lava kedua sebesar 426.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan rata-rata 10.000 meter kubik per hari.

“Memiliki dimensi panjang 160 meter, lebar 120 meter dan tinggi 50 meter. Sedikit lebih besar dari kubah lava yang ada di barat daya dengan dimensi panjang 258 meter, lebar 133 meter, tinggi 30 meter dan volume 397.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 25.200 meter kubik per hari,” ujarnya, Sabtu (20/2/2021).

BACA JUGA: Menperin Ungkap Alasan PPnBM Mobil Dipangkas

Meski letaknya di tengah kawah, pertumbuhan dan guguran dari kubah labva kedua ini masih ke arah barat. “Beberapa fenomena adanya pijaran yang di tengah, mengindikasikan aktivitas [kubah lava] di tengah. Luncurannya masih ke arah barat. Kami terus pantau seberapa intensitas aktivitas yang terjadi di kubah lava di tengah kawah ini,” katanya.

Dalam sepekan terakhir khususnya pada Jumat (19/2/2021) pagi juga terjadi fenomena asap yang lebih tebal dari puncak Merapi. BPPTKG mencatat ketinggian awan mencapai 400 meter di atas puncak dengan intensitas tebal. Ia menjelaskan hal ini terjadi karena kawah Gunung Merapi sedang ada pertumbuhan kawah sehingga kondisinya panas.

Di sisi lain, hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur Gunung Merapi. Maka ketika curah hujan bertemu dengan kawah yang panas terjadilah penguapan yang lebih tinggi sehingga menimbulkan asap yang lebih banyak dari kawah. “Air hujan bercampur panas kawah di tengah,” ungkapnya.

Pada aktivitas kegempaan, dalam periode pengamatan 12-18 Februari tercatat telah terjadi tiga gempa vulkanik, 60 gempa fase banyak, 943 gempa guguran, 17 gempa hembusan dan 12 gempa tektonik. Dibanding minggu sebelumnya, aktivitas kegempaan ini lebih rendah.