Ini 13 Tokoh Paling Berperan di Serangan Umum 1 Maret

Pembukaan pameran temporer Patriot Bangsa, Merebut Ibu Kota. - Ist
02 Maret 2021 11:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi kisah yang selalu menarik disimak setiap tahun. Serangan spektakuler yang dilakukan TNI bersama rakyat untuk merebut Kota Jogja dari tangan penjajah Belanda mampu mengembalikan kewibawaan Indonesia.

Museum Benteng Vredeburg Jogja menyajikan beragam koleksi 13 tokoh yang paling berperan terhadap peristiwa tersebut melalui pameran bertajuk Patriot Bangsa, Merebut Ibu Kota yang digelar sejak 1 Maret hingga 31 Maret 2021 mendatang. Adapun pameran yang bekerja sama dengan Pemda DIY ini secara resmi dibuka pada Minggu (28/2/2021).

“Koleksi yang disajikan ini memberikan gambaran terkait sepak terjang para tokoh ini dalam berjuang melawan Agres Militer Belanda II dan usaha perebutan Kota Yogyakarta. Mereka mengambil langkah strategi perjuangan sesuai tugas masing-masing,” kata Kepala Museum Benteng Vredeburg Suharjo dalam rilisnya Senin (1/2/2021).

Ketua Panitia Pameran Temporer Muhammad Rosyid Ridlo menjelaskan penyuguhan materi pameran dengan menampilkan koleksi 13 tokoh tersebut telah melalui proses diskusi panjang dengan melibatkan ahli. Selain itu melakukan riset ringan untuk menguak data tokoh yang jarang terekspose di publik. Selama ini tokoh yang paling dominan terpublikasikan terkait dengan Serangan Umum 1 Maret adalah Jenderal Soedirman, Sri Sultan HB IX dan Soeharto. Namun pameran saat ini menampilkan tokoh lain yang juga memiliki peran sesuai tanggungjawabnya.

Baca juga: 39.000 Orang di Sektor Pelayanan Publik Terdaftar Menerima Vaksin

“Kami menyajikan semuanya dengan harapan memberikan tambahan wawasan kepada masyarakat. Koleksi dari para tokoh ini selain kami dapatkan dari Vredeburg juga dari museum lain dan dari keluarga para tokoh. Di sela-sela pameran kami juga menghadirkan keluarga tokoh-tokoh ini,” katanya.

Adapun 13 patriot tersebut terdiri dari:

1. Kolonel Zulkifli Lubis
Adalah sosok perintis Badan Intelijen Negara. Pada akhir 1948 Zulkifli menerima informasi intelijen terkait kemungkinan serangan Belanda ke Ibu Kota RI di Yogyakarta. Sesuai siasat yang disepakat Lubis dan pasukannya mundur ke luar kota menuju ke Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Di wilayah ini sebagai tempat pengungsian, basis pertahanan militer sekaligus sebagai tempat penyimpanan candu.

2. Kolonel Djatikusumo
Pada 1948 Djatikusumo menjabat sebagai KSAD sekaligus Gubernur Akmil dengan pangkat Kolonel. Bersama satuannya para taruna Akmil Djatikusumo ikut bergerilya dan berjuang di medan pertempuran menghadang dan menyerang pos Belanda. Setelah Serangan Umum 1 Maret dan diplomasi menguntungkan.

3. Kolonel Gatot Subroto
Selaku Komandan Divisi II yang membawahi wilayah Solo dan sekitarnya, Gato Subroto bersama anak buahnya melakukan penyerangan terhadap tentara Belanda yang akan memberikan bantuan ke Yogyakarta.

Baca juga: Digrebek Istri saat di Kamar dengan Wanita Lain, Pria Kulonprogo Ini Mengaku Hanya Kerokan

4. Letkol Wiliater Hutagalung
Wiliater Hutagalung adalah seorang dokter TNI, ia yang memiliki gagasan penyerangan spektakuler untuk menghadapi propaganda Belanda. Gagasan tersebit disetujui Panglima Soedirman dan mengkoordinasikan dengan Panglima Divisi II dan Divisi III.

5. Syafrudin Prawiranegara
Saat Ibu Kota Yogyakarta dikuasai Belanda, atas perintah Presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintaha Darurat Republik Indonesia.

6. Opsir Udara III Boediardjo
Mendirikan stasiun darurat di rumah warga di Banaran, Playen, Gunungkidul. Di rumah ini menggunakan Radio PHB PC-2, Boediardjo menyiarkan kabar serangan umum 1 Maret ke Takengon Aceh dan diteruskan ke New Delhi hingga sampai ke PBB.

7. Kolonel Tahi Bonar Sumatupang
TB Simatupang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang yang menyetujui Serangan Umum 1 Maret untuk menegaskan kedudukan Republik Indonesia.

8. Kolonel AH Nasution
Pada mas Agresi Militer Belanda II, AH Nasution bertugas sebagai Panglima Tentara Teritorium Djawa bermarkas di Yogyakarta. Pada 20 Desembr 1948 ia menuliskan maklumat pemberlakukan pemerintahan militer seluruh Jawa hingga diikuti perintah strategis seperti operasi.

9. Lambertus Nicodemus Palas
Serangan Umum 1 Maret menjadi puncak kemenangan diplomasi Indonesia di Sidang PBB. Propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada berhasil dipatahkan L.N. Palar dalam pidatonya di Sidang DK PBB 10 Maret 1948 di Amerika Serikat.

10. Jenderal Soedirman
Untuk melawan propaganda Belanda, Soedirman menginstruksikan Langkah tertentu yang harus diambil, sebagai puncaknya dilakukanlah serangan terbuka dikenal Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat Yogyakarta dikuasai Belanda Soedirman memilih untuk bergerilya membuat kantong perlawanan.

11. Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Ketika Belanda menguasai Yogyakarta, HB IX Menyusun rencana untuk mengembalikan semangat juang rakyat, lalu muncullah ide untuk melakukan serangan balasan. Sri Sultan mengirim surat kepada Jenderal Soedirman perihal rencana tersebut. Soedirman mendukung dan menyarankan HB IX agar berkoordinasi dengan Letkol Soeharto. Dua pekan sebelum serangan umum, HB IX membuka pintu kraton untuk berlindung TNI dan menyiapkan persenjataan. Kompleks Kraton dijadikan sebagai pusat serangan, di mana banyak tentara yang berlindung di dalamnya.

12. Letkol Soeharto
Sebagai Komandan WK IIO, Soeharto mempersiapkan pasukan dengan membagi batas tiap sector. Soeharto meminta setiap Sub Wehrkreise harus menempatkan pasukan di dalam kota dengan cara sembunyi.

13. Kolonel Bambang Soegeng
Menjabat sebagai Panglima Divisi III membawahi wilayah Yogyakarta menginstruksikan kepada seluruh TNI untuk mengikat pasukan Belanda agar mencegah bala bantuan masuk ke Yogyakarta.
Sumber : Buku Patriot Bangsa, Vredeburg