Angka Kematian Pasien Covid-19 di Sleman Meningkat, Ini Penyebabnya

Ilustrasi. - Freepik
22 April 2021 07:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sejak penerapan PPKM tahap keempat, kasus kematian pasien Covid-19 di Sleman sejatinya turun drastis. Setelah itu, ada kecenderungan pasien Covid-19 yang meninggal dunia mengalami peningkatan.

Pada PPKM tahap 1 (11-25 Januari) kasus kematian pasien Covid-19 di Sleman tercatat 44 kasus. Angkanya menurun menjadi 41 kasus pada PPKM tahap 2 (26 Januari-8 Februari). Lonjakan kasus kematian mengalami puncaknya pada PPKM tahap 3 (9-22 Februari) di mana tercatat kasus kematian sebanyak 65 kasus.

BACA JUGA : Di Sleman, Kematian Pasien Covid-19 Meningkat 100 

Selama PPKM tahap 4 (23 Februari-8 Maret) kasus kematian turun drastis menjadi 19 kasus. Meskipun tidak sebanyak kasus pada PPKM sebelumnya, tren kematian pasien Covid-19 perlahan-lahan terus mengalami kenaikan hingga kini.

Tercatat pada PPKM tahap 5 (9-22 Maret) jumlah pasien yang meninggal sebanyak 24 kasus dan mengalami peningkatan pada PPKM tahap 6 (23 Maret-5 April) sebanyak 27 kasus. Kemudian kasus kematian kembali meningkat menjadi 38 kasus selama PPKM tahap 7 (6-19 April).

Peningkatan kasus kematian pasien Covid-19 di Sleman rupanya berbanding lurus dengan penambahan kasus baru sejak PPKM tahap 3. Tercatat selama PPKM tahap 3 jumlah pasien baru sebanyak 702 kasus, meningkat menjadi 739 kasus (PPKM 4) dan menjadi 817 kasus (PPKM 5).

Lonjakan kasus baru tidak berhenti. Selama PPKM tahap 6 tercatat sebanyak 1.030 kasus dan PPKM tahap 7 jumlah kasus baru bertambah 1.034 kasus. Tren penularan dan temuan kasus baru Covid-19 di Sleman mengalami penurunan jika dibandingkan data kasus selama PPKM 1 (1.538 kasus) dan PPKM 2 (1.447 kasus).

BACA JUGA : Kematian Pasien Covid-19 di Sleman Capai 156 Kasus

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengakui adanya tren kematian pasien Covid-19 di Sleman. Rata-rata kasus kematian dialami oleh pasien komorbid dan lansia. Ia menduga, masalah tersebut setidaknya dipicu oleh beberapa hal. "Ini menurut kajian saya, masih perlu pendalaman," kata Joko saat dikonfirmasi Harian Jogja, Rabu (21/4/2021).

Dijelaskan Joko, sebagian besar kasus baru adalah asimtomatik (OTG). Artinya, sebelum pasien diketahui positif Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri besar kemungkinan ia sudah berinteraksi dengan lansia atau orang dengan komorbid. "Nah lansia atau orang dengan komorbid ini kalau tertular Covid-19 kan menjadi (gejala) berat dan (sebagian) berakhir dengan kematian," katanya.

Selain itu, lanjut Joko, tren kematian pasien Covid-19 ini juga ada hubungannya dengan minimnya rumah sakit yang memiliki fasilitas terapi plasma konvalesen. Dari puluhan rumah sakit di DIY, hanya sedikit rumah sakit yang mampu menjalankan terapi plasma konvalesen.

"Terapi plasma konvalesen baru bisa dilakukan di sedikit RS, dan faskes yang bisa menyediakan plasma konvalesen juga baru sedikit yakni RS Sardjito dan Bethesda. Padahal belakangan ini kebutuhan terapi plasma konvalesen sangat tinggi akibat banyakmya penambahan kasus gejala sedang dan berat," kata Joko.

BACA JUGA : Kematian Akibat Covid-19 di Jogja Terus Meningkat 

Dia menepis anggapan tren kasus kematian pasien Covid-19 ada hubungannya dengan ketersediaan bed di Faskes seperti yang dialami awal tahun kemarin. Sebab saat ini ketersediaan bed untuk pasien Covid-19 sudah tinggi. Meskipun begitu, ia mengakui jika RS masih membutuhkan tambahan ruang isolasi kritikal. Kondisi ini seiring dengan banyaknya kasus positif bergejala sedang dan berat.