Begini Kisah Cucu Sultan Jogja: Hidup Hemat demi Hobi Balap

Pembalap Beagle Jogja Rally Team, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo, dengan dua mobilnya. - Harian Jogja/Desi Suryanto
01 Mei 2021 13:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Salah satu cucu Sri Sultan HB X punya hobi membalap. Hobi itu dijalani dengan serius. Berbagai prestasi diperoleh. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Herlambang Jati Kusumo.

“Balapan di luar negeri susah, enggak ada nasi goreng, enggak ada nasi padang, ra wareg ra eneng segane [Tidak kenyang, tidak ada nasinya],” ujar pembalap Beagle Jogja Rally Team, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo, 26, sembari tertawa saat menceritakan pengalamannya.

BACA JUGA: Warga Temukan Bayi Perempuan Tergeletak di Gerobak Bekas Jualan Tahu Walik

Salah satu cucu Raja Kraton Jogja, Sri Sultan HB X, itu memang memiliki hobi otomotif sedari kecil.  Ditemui di kantornya, Sri Andhini Sakti, Jalan Magelang Km 7, Sendangadi, Mlati, Sleman, Marrel menyambut kami dengan ramah. Bersama dengan ayahnya, ia mempersilakan masuk di ruang kerjanya yang berukuran sekitar 7x4 meter. “Ngapunten, berantakan. Silakan-silakan,” ucap Marrel, Rabu (28/4).

Selain menjalani karier di dunia balap, saat ini Marrel banyak membantu Ayahnya mengurusi bisnis daging sapi. Ia kerap mengantarkan order daging sapi langsung kepada para pelanggan. Di tengah obrolan, ia juga sempat meminta izin sebentar untuk berbicara dengan pemesan daging.

Siang itu, Marrel memang meluangkan waktu berbagi cerita pengalamannya di dunia balap. Sedari kecil Marrel sudah tertarik dengan balapan. Minat itu tidak lepas dari kegiatan ayahnya, Eri Triawan, yang juga seorang pembalap.

Marrel memulai dari mini bike trail. Baru setelah itu, ia masuk di adu cepat roda empat. Gokart dia jajal saat dia masih duduk di bangku kelas II SD.

Saat masuk SMP dan SMA, ia sempat vakum di dunia otomotif dan menyeberang ke musik. Ketika akan lulus SMA, Marrel kembali ke dunia otomotif. Ia juga bergabung dengan komunitas Double Cabin Indonesia dan sering mengikuti offroad.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA DeBritto, putra dari GKR Condrokirono—putri kedua Sri Sultan HB X—itu melanjutkan pendidikan di Inggris. Gelar S1 dia dapat dari University of West of England dan titel S2 dia terima dari King’s College University pada 2020. Keduanya di jurusan Hubungan Internasional. Di sela-sela kesibukannya menjalani kuliah, Marrel tetap menekuni hobinya di dunia otomotif.

BACA JUGA: Hingga Kini, 12 Juta Orang Lebih Sudah Vaksin Covid-19 di Indonesia

Kelangenannya di dunia balap juga didukung lingkungan tempat ia kuliah. Di Inggris, hampir seluruh universitas memiliki tim balap. Ia mencoba ikut seleksi kejuaraan nasional gokar khusus mahasiswa. Marrel pun menjadi satu-satunya orang Asia yang lolos seleksi. Dia masuk Tim A.

British Universities Karting Championship (BUKC) atau Kejuaraan Nasional Gokar Khusus Mahasiswa menjadi tempat Marrel mengasah kemampuan. Kurang lebih lima tahun selama di Inggris, ia terus membalap. Sesekali bahkan ia menyempatkan terbang kembali ke Indonesia untuk mengikuti kejuaraan speed offroad.

Hobi itu butuh energi banyak, juga uang yang tidak sedikit. Meski jadi cucu Sultan, tidak lantas Marrel berpangku tangan menjalani hobinya itu. Ia rela berhemat, dan mandiri bekerja demi memenuhi Hasrat menyalurkan hobinya.

“Pernah kerja pegang papan arah untuk mahasiswa baru. Saya berdiri enam jam. Angkut-angkut kursi juga kalau ada simposium, atau apa yang lain, kan butuh tenaga. Lumayan itu [honornya],” ucap Marrel.

Marrel juga menceritakan perbedaan balapan di luar negeri dan di Indonesia. Di luar negeri menurutnya sangat kompetitif. Selain itu regulasinya sangat ketat. Biayanya pun mahal. Kru dibayar secara profesional dengan hitungan per jam. Sementara, kondisi di Indonesia berbeda.

“Di sini saya bersyukur ketemu orang yang satu visi, ada kebanggaan bersama bawa nama Jogja. Istilahnya mereka gak nge-charge [mematok honor], tetapi tetap harus kami anggarkan,” ucapnya.

“Di luar negeri dingin, di Indonesia kayak nganggo selimut mlaku neng dalan ngentang-ngentang jam 12 awan [Seperti pakai selimut berjalan pada pukul 12 siang, panas sekali]. Terus di luar negeri balapan pagi biasanya jam lima, pikirannya kan soto enak anget-anget,” kata Marrel sembari tertawa.

Fasilitas balapan juga beda jauh. Di Indonesia masih sulit ditemui tempat latihan, sementara di luar negeri relatif mudah. Hal itu pula yang menurutnya membuat jam terbang pembalap di luar negeri lebih tinggi.

BACA JUGA: Happy Ada Partai Ummat, Zulkifli Hasan Anggap Bisa Hindari Pertengkaran

Marrel mengatakan dahulu dia sulit minta izin kembali ke Indonesia untuk balapan. Namun, hobi yang ia tekuni dengan serius itu membuahkan hasil. Dia beberapa kali pulang dan mendapatkan podium sehingga bisa meyakinkan ibu, kakek, dan neneknya.

“Sekali pulang dapat podium, dari lampu merah ke kuning. Itu masih lampu kuning ya, terus pulang kedua dapat podium lagi, lampu kuning, jadi ada hijaunya. Terus menang lagi, [dapat] full lampu hijau,” ujar Marrel.

Untuk meyakinkan keluarga besarnya, Marrel juga tekun belajar. Ia biasanya menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hari di perpustakaan kampus. Tugas yang biasa dikumpul tiga bulan ke depan, ia kerjakan segera. Belajar di luar negeri pun ia selesaikan tepat waktu.

Saat ini Marrel fokus pada sprint rally dan street offroad. Torehan di awal tahun ini sangat berkesan baginya. Beagle Jogja Rally Team berhasil menorehkan prestasi saat bersaing di Kejuaraan Nasional Sprint Rally Seri I di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, 10-11 April lalu. Tim ini menyabet peringkat kedua di Grup J, sekaligus menempati juara 10 pada klasemen umum.

“Tim ini anak muda semua, di luar ekspektasi kami kemarin. Terlebih dengan keterbatasan yang ada, dapat dikatakan kami masih anak kemarin sore,” ucapnya.

BACA JUGA: Bisnis Perumahan Paling Banyak Dikeluhkan Konsumen, Ini Masalahnya

Marrel sempat mengajak kami ke markas Beagle Jogja Rally Team yang berada di Jalan K.H. Muhdi, Corongan, Maguwoharjo, Depok, Sleman.Deretan mobil terparkir rapi. Marrel menunjukan dua mobil yang sering Ia gunakan.

“Ini yang terakhir kemarin saya pakai, Can-Am buatan Kanada, seperti mobil pantai, dimodifikasi [beberapa bagian] made in Jogja gitu. Kalau apa-apa dari luar negeri, duite entek ra balapan [uangnya habis enggak balapan]” ujar Marrel.

Beberapa bagian dari mobil memang diproduksi sendiri. Hal itu menjadi kebanggaan bagi Marrel dan timnya. Ia memang punya keinginan mengangkat nama Jogja di dunia balap. “Kami ingin bawa nama Jogja ini ke nasional,” ucapnya.

Bagi Marrel, sprint rally maupun street offroad sangat menantang. Medan balapan di tanah dengan start yang tidak berbarengan, dia anggap mengasyikkan.

“Musuhnya adalah diri sendiri. Ini melatih kesabaran mengontrol emosinya. Jadi bergulat dengan diri sendiri. Kemudian kalau di tanah itu tidak pasti, kalau hujan kondisinya seperti apa, kering pun berubah-ubah. Misal saya start di urutan ke-20, itu kondisi tanah sudah beda. Banyak yang tidak terprediksi,” ucapnya.

Sesuai jadwal, Marrel bersama dengan Beagle Jogja Rally Team menyongsong Seri II yang akan digelar pada Juni mendatang di Kabupaten Muarabungo, Jambi. Ia yang pernah juga bertanding di sana mencoba mempelajari karakteristik medan laga di sana. Di seri pertama, ia mengaku cukup kewalahan.

Dukungan penuh didapat Marrel dari ayahnya, Eri Triawan. Ia punya pesan khusus.

“Muka bete mending batalin balapan. Tidak boleh ada masalah diluapkan di balapan. Turun balapan harus fun. Jika enggak fun akhirnya menjadi beban, itu enggak benar,” ucapnya.

Eri mengaku kerap mengkritik Marrel setelah balapan. “Pasti saya kritik, jangan sering puas dengan yang terjadi, enggak akan belajar lagi nanti. Marrel itu juga saya suruh bantu kru dulu, tidak langsung cuma duduk nyetir,” ucap Eri.

Koordinator Tim Beagle Jogja Rally Team Bukbis Pancawinarna mengatakan Marrel memberi energi positif dan membuat tim semakin berkembang. Untuk seri selanjutnya, tim tidak memiliki persiapan khusus. Prinsip ketahanan mobil balap bisa sampai finis masih dipegang. “Enggak melulu harus kencang, istilahnya lebih mengutamakan kekuatan mobil menjalani trek dengan baik,” ucap pria yang kerap disapa Pak Bies itu.

Seusai pertandingan biasanya tim juga melakukan evaluasi. Dari situ dicatat apa saja kekurangan, dan hal apa yang perlu dibenahi. Kekompakan sangat dijaga. “Harus seperti keluarga, punya satu tujuan sehingga bisa berprestasi. Guyub kerja sama akhirnya terbentuk tim yang kuat. Semua peduli, untuk keberhasilan,” ucapnya.