Pembangunan Taman Budaya Bantul Angkat Konsep Sejarah Pajangan

Kelompok seniman gejog lesung asal Kapanewon Girimulyo saat tampil dalam Festival Gejog Lesung 2020 di Taman Budaya Kulonprogo (TBK) Kapanewon Pengasih, Senin (5/10/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
20 Mei 2021 08:17 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Taman Budaya Bantul (TBB) yang dibangun di atas tanah seluas 5 hektare di Dusun Kamijoro, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, tak hanya mengadopsi kota lama Kerajaan Mataram, namun juga mengangkat sejarah dan kekhasan dari lokasi pembangunannya.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Bantul Isa Budi Hartomo, Rabu (19/5/2021). Isa menyatakan, keputusan mengangkat sejarah dan kekhasan dari Kapanewon Pajangan didasarkan kepada konsultasi yang dilakukan Pemkab Bantul dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

BACA JUGA : Bantul Bangun Taman Budaya Taraf Internasional Seluas 5

Dalam pertemuan di beberapa waktu lalu, ada permintaan dari Keraton Yogyakarta agar memasukkan kekhasan dan sejarah dari Kapanewon Pajangan.

"Nah itu nanti akan kami realisasikan dalam bentuk ornamen. Konsep catur gatra tunggal tetap, dan akan ditambah dengan ornamen yang menceritakan sejarah dan kekhasan dari lokasi Taman Budaya Bantul," katanya.

Menurut Isa, sejauh ini tahapan awal dari pembangunan TBB telah berjalan. Di mana Pemkab telah membebaskan tanah sekitar lima hektare dari 19 pemilik lahan. Adapun anggaran untuk pembebasan lahan adalah senilai Rp25 miliar.Selain itu, saat ini Pemkab juga telah mulai melakukan lelang untuk gambar dan penyusunan Detail Enginering Detail (DED).

Sebab, lelang gambar dan penyusunan DED sempat terganggu dengan kebijakan dari Kementrian Keuangan yang meminta Pemkab merefocusing anggaran APBD 2021 dan menghentikan sementara lelang pengadaan barang dan jasa.

"Sekarang kan sudah diperbolehkan. Nah ini nanti, siapa yang menang lelang akan kami minta untuk lebih menggali tentang kekhasan dan sejarah dari Pajangan," lanjut Isa.

BACA JUGA : Taman Budaya Bantul Usung Konsep Catur Gatra Tunggal

Kundha Kabudayan Bantul, Nugroho Eko Setyanto mengatakan, konsep catur gatra tungal yang akan direalisasikan di TBB meliputi elemen religi yang diwujudkan dengan keberadaan masjid.

Alun-alun sebagai tempat interaksi akan diwujudkan dalam bentuk plaza.  Di samping itu akan ada pendopo sebagai implementasi pusat pemerintahan dan pusat UMKM sebagai bentuk dari konsep perekonomian.

Sejauh ini, konsep ini, kata Nugroho telah masuk dalam Detail Enginering Detail (DED) dan tengah disusun oleh Pemkab Bantul.

Tak sampai disitu, Pemkab juga memastikan proyek pembangunan bertaraf internasional itu menelan anggaran lebih dari Rp150 miliar itu menggunakan Dana Keistimewaan (Danais). Sedangkan untuk penyusunan DED dan Masterplan menggunakan APBD Bantul 2021.

“Karena tempat ini nantinya tidak hanya sebagai lokasi menggelar pertunjukan seni dan budaya tingkat lokal dan nasional. Akan tetapi juga internasional," papar  Nugroho.

Nugroho juga memastikan dalam pembahasan dan penyusunan DED, Pemkab akan melibatkan banyak pihak, utamanya seniman. Sebab, keberadaan TBB ini diharapkan mampu menjadi rumah untuk seniman.

Agar TBB gampang diakses baik pelaku maupun masyarakat yang akan jadi calon penonton, saat pembahasan DED akan dipertimbangkan untuk pembuatan akses jalan dan penerangan.

BACA JUGA : Tim Juri Tetapkan Pemenang Sayembara Desain Taman

“Semua akan dibahas dalam penyusunan DED nanti,” tandas Nugroho.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan pada 2021 DED ditargetkan selesai. Usai DED selesai, pada 2022 Pemkab akan mulai membangun konstruksi untuk TBB. Adapun anggaran untuk bangunan TBB dianggarkan senilai Rp130 miliar.

"Jadi total anggaran mulai dari pembebasan lahan, DED dan pembangunan konstruksi lebih dari Rp150 miliar," kata Halim.

Dengan anggaran yang cukup besar, menurut Halim, diharapkan nantinya TBB akan menjadi taman budaya berlevel internasional. "Jadi kalau ada pertunjukan pertukaran kebudayaan tidak memalukan," tandas Halim.

Halim memastikan nantinya TBB akan menjadi tempat pertukaran kebudayaan, selain menggelar pentas di lokasi tersebut. Oleh karena itu, bentuk bangunan akan bertaraf internasional, agar penampilan dari hasil pertukaran budaya akan maksimal.

"Gedung juga harus representatif dan berkelas internasional. Dicerminkan dengan bangunan yang lebih luas dan kelengkapan sarana dan prasarana," paparnya.

BACA JUGA : Dipastikan Berlokasi di Pajangan, Proyek Taman Budaya

Halim menyatakan Pemkab telah memikirkan matang terkait dengan lokasi TBB di Pajangan.  Selain dekat dengan rencana outer ringroad, Pemkab Bantul ingin mengembangkan perekonomian Bantul bagian barat. Karena selama ini, daerah barat masih belum banyak tersentuh.

"Pertimbangan jangka panjang. Kami ingin Bantul sisi barat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Diharapkan, taman budaya akan jadi pengungkit aktivitas ekonomi di sekitarnya," ucap Halim.