Terapkan Prokes, Tak Perlu Takut Varian Baru Covid-19

Focus Group Discussion "Varian Covid-19 Bertambah, Jangan Panik!" yang diadakan oleh Harian Jogja, Senin (31/5/2021). - Ist
31 Mei 2021 21:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Berbagai varian baru Covid-19 bermunculan dan mulai ditemukan di Tanah Air. Namun, variasi virus baru ini masih bisa ditangani dengan obat, tergantung daya tahan tubuh melawannya.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Satgas Covid-19 Universitas Gadjah Mada (UGM) dr. Rustamadji saat mengisi Focus Group Discussion “Varian Covid-19 Bertambah, Jangan Panik!” yang diadakan oleh Harian Jogja, Senin (31/5/2021).

BACA JUGA : Varian Baru Covid-19 Dicurigai Masuk Sleman

Rustamadji mengatakan varian baru muncul karena material genetik di virus Covid-19 itu sederhana, maka setiap terjadi replikasi atau mencetak dan membuat baru, maka seringkali ada mutasi. "Begitu banyak mutasi, secara molekuler biologi, ini ada mutasi, pertama adalah untuk ilmu penyakit jadi mudah menular atau malah jadi tidak mudah menular. Dia survive atau malah mati," jelasnya.

Dalam seleksi alam, varian-varian baru yang tetap hidup itu berpotensi untuk beradaptasi dengan situasi yang ada. Situasinya, tubuh kita punya anti bodi, mereka akan beradaptasi supaya akan tetap hidup dan berkembang. Ini menjadi suatu hal yang lazim terjadi, maka terjadi mutasi.

Ada beberapa mutasi dan yang diwaspadai oleh WHO, ada beberapa, yaitu yang berpotensi menjadi lebih cepat menular. Kemungkinan buruk lain, mungkin akan jadi lebih berat. Hal ini akan terjadi jika menempel pada tubuh manusia. Pola penyebarannya sama, yakni antar manusia, dengan demikian, satu-satunya jalan adalah mengendalikan pergerakan manusia.

BACA JUGA : Cegah Varian Baru Corona, Epidemiolog UGM: Pemerintah

Menurutnya, virus tidak bergerak tetapi dibawa manusia kemana-mana. Saat ada pergerakan manusia bertambah apakah pergerakan virus baru akan bertambah atau tidak. Di Jogja pernah ada varian baru, tetapi tidak berkembang, tidak terbukti lebih kuat menginfeksi. Tapi di Cilacap ada dari India. Satgas Pusat pernah menyebutkan varian baru ada di banyak tempat di Indonesia.

"Karenanya, kewaspadaan harus tetap jalan. Karena virus dibawa manusia, makanya protokol kesehatan itu penting. Tidak perlu takut terinfeksi, kita semua sedang belajar. Andaikata sakit, varian baru ini masih bisa ditangani dengan obat yang ada. Tergantung daya tahan tubuh melawan itu. Replikasi bisa dihentikan dengan obat, tetapi untuk menyembuhkan tergantung kondisi tubuh," tegasnya.

Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (BEM FK UAD) Ryan Permadi mengatakan dirinya sebagai mahasiswa dan generasi muda memandang Covid-19 ini dengan tidak takut karena ia yakin stakeholder di Tanah Air ini mampu menangani.

"Tetapi yang perlu adalah sumber informasi. Saat Indonesia tertimpa bencana, perlu sumber informasi yang pasti. Pada Covid ini, kenapa sulit didapatkan, karena baru pertama kali kena. Jadi itu semua peneliti juga masih harus belajar banyak tentang cara penanganannya," kata dia.

BACA JUGA : Varian Baru Corona Diduga Muncul di DIY, Indikasinya Ada 

Menurutnya, generasi muda tidak perlu takut varian baru, selama menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. "Mau varian bertambah sekalipun, kita gak kena karena kita sudah menghindarinya, pakai masker, menghindari mobilitas, ini sudah kunci banget," katanya.

Lebih lanjut, ia juga menyarankan generasi muda untuk ikut aktif memberitahu pada orang-orang yang belum paham terkait Covid-19.