Persiapan PTM, Bantul Target Akhir Juni SMP Telah Penuhi DPK

Suasana PTM di SDN Serayu, Jogja, Rabu (28/4/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
06 Juni 2021 15:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Seiring tingginya capaian vaksinasi di kalangan guru dan tendik, pemenuhan Daftar Periksa Kesiapan (DPK) di tiap-tiap sekolah pun digenjot. Harapannya akhir Juni setiap SMP di Bantul telah memenuhi DPK yang ditetapkan.

DPK merupakan berbagai syarat yang kudu dipenuhi sekolah bila ingin menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bantul, Isdarmoko, menyebutkan ada enam poin DPK yang harus dipenuhi, mulai dari pemenuhan sarana kesehatan, pemetaan kesehatan warga sekolah, dan sebagainya.

BACA JUGA : Bantul Lakukan Pemetaan Kesehatan untuk Kelanjutan PTM

"Sambil menunggu vaksinasi rampung, kita juga memastikan pemenuhan DPK di masing-masing sekolah," terangnya Minggu (6/6/2021).

Disdikpora Bantul telah mendorong sekolah di berbagai jenjang untuk memenuhi DPK. Berdasarkan data hingga 2 Juni 2021, capaian pemenuhan DPK di sekolah jenjang SMP mencapai lebih dari 95 persen. "Nanti kita targetkan sampai akhir Juni yang SMP sudah 100 persen bisa memenuhi syarat untuk PTM," ujarnya.

Dari jenjang SD, capaian pemenuhan DPK mencapai 85 persen saat ini. "Kalau yang SD kita targetkan nanti bisa di atas 90 persen sampai akhir Juni," tambahnya.

Enam poin dalam DPK yang harus dipenuhi tiap-tiap sekolah di Bantul mencakup banyak aspek. Poin pertama misalnya, pemenuhan sarana kesehatan, meliputi dari kebersihan toilet, adanya wastafel, hingga disinfektan berkala. Poin kedua dalam DPK tak kalah pentingnya yakni penegakan sekolah sebagai area wajib masker.

BACA JUGA : Sebelum Lakukan PTM, SMK di Bantul Berkali-kali

Sementara itu aspek ketiga dalam DPK berupa layanan kesehatan yang mana sekolah diharuskan mendatangani MoU dengan Puskesmas atau klinik terdekat untuk pemeriksaan kesehatan.

Pemetaan kesehatan warga sekolah menjadi salah satu poin yang urgen untuk dipenuhi. Pasalnya poin ini mewajibkan sekolah mendata siapa warga sekolah dengan komorbid, warga sekolah yang melakukan perjalanan jarak jauh. Selain Pemetaan juga mendata warga sekolah yang pernah kontak fisik dengan penderita atau berpegian dari zona merah.