Antisipasi Krisis Air, Sumber Song Gilap Jadi Andalan Warga Tambakromo

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
10 Juni 2021 08:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, PONJONG – Kalurahan Tambakromo, Ponjong, Gunungkidul menjadi salah satu langganan kekeringan saat kemarau. Adanya pengangkatan sumber di Song Gilap menjadi salah satu harapan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Kepala Dusun Tambakromo, Saimin mengatakan, keberadaan sungai bawah tanah di Song Gilap di Dusun Klumpit, Kenteng, Ponjong sudah mulai dimanfaatkan. Hal ini terlihat adanya instalasi pompa lengkap dengan mesin untuk pengangkatan. Meski berada di luar Kalurahan, namun pemanfaatan bisa warga di Tambakromo.

BACA JUGA : Dusun di Imogiri Ini Krisis Air Bersih, Butuh Bantuan Pemkab

Menurut dia, instalasi tersebut menjadi harapan masyarakat untuk mendapatkan pasokan air bersih. “Ini bisa dimanfaatkan sehingga pasokan ke warga bisa lebih terjamin,” katanya, Selasa (8/6/2021).

Saimin mengungkapkan, sebelum adanya pengangkatan sumber di Song Gilap, warga mengalami krisis air saat kemarau. “Sekarang sudah ada pipa-pipa yang tersambung ke rumah warga. Jadi, mudah-mudahan masalah air bisa diatasi,” ungkapnya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Lurah Tambakromo, Sudigdo Wiyoko Nugroho. Menurut dia, di wilayahnya ada tiga dusun yang sering mengalami air bersih. Selain Tambakromo, krisis juga terjadi di Dusun Pijenan dan Kanigoro.

Meski demikian, ia optimistis wilayah yang mengalami kekeringan akan berkurang seiring adanya pemanfaatan sumber air di Song Gilap. “Memang masih ada wilayah yang mengalami krisis, tapi ada pengurangan,” katanya.

BACA JUGA : Siap-Siap Krisis Air, BPBD Gunungkidul Siapkan Rp700 Juta

Sudigdo mengungkapkan, upaya mengatasi krisis air tidak hanya memanfaatkan sumber di Song Gilap. Pasalnya, ada upaya lain seperti pemanfaatan pamsimas hingga donasi air bersih untuk masyarakat.

Sebagai contoh, sambung dia, di 2019 lalu warga berhasil mengumpulkan donasi untuk membeli 800 tangki air bagi masyarakat yang mengalami krisisi. “Ada penggalangan dana dari warga perantauan. Hasilnya digunakan untuk membeli air untuk disalurkan ke warga yang kekurangan,” katanya.