90 Persen Bahan Baku Obat Masih Impor, Transfer Teknologi Diharapkan Jadi Solusi

Rektor UII Profesor Fathul Wahid. - Ist/UII.
13 Juni 2021 08:37 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesia (UII) membuka Magister Farmasi jelang tahun akademik 2021/2022. Kebutuhan tenaga farmasi dinilai terus meningkat seiring ada persoalan pandemi. Prodi Farmasi diharapkan membantu memecahkan solusi jangka panjang dalam mengantisipasi pandemi.

Rektor UII Profesor Fathul Wahid mengatakan sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas, terutama saat pandemi belum dapat seluruhnya dikendalikan. Alokasi anggaran kesehatan, menurutnya mempunyai kaitan dengan kualitas kesehatan publik.

BACA JUGA : DPR Sebut Besarnya Impor Obat dan Bahan Baku Indonesia

Di sisi lain ketersediaan infastruktur dan layanan kesehatan membutuhkan dana yang tidak kecil. Ketersediaan obat yang berkualitas di setiap fasilitas layanan kesehatan dan pasar merupakan salah satu bagian lain dari usaha menjaga kesehatan publik.

“Kami menemukan data bahwa 90 persen bahan baku obat Indonesia masih diimpor. Salah satu alasan yang mengemuka adalah bahwa cacah perusahaan nasional yang memproduksi bahan baku obat di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga tidak memenuhi kebutuhan,” ungkap Fathul dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (13/6/2021).

Fathul menambahkan pengembangan transfer teknologi dan sember daya manusia dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan kemandirian. Di sisi lain, pengembangan obat modern asli Indonesia dengan memanfaatkan bahan baku domestik tampaknya menjadi tantangan yang harus dipecahkan dan dihadapi secara kolektif. Secara hitungan ekonomi kasar, kata dia, harga obat dengan bahan baku lokal, juga diharapkan lebih terjangkau oleh publik.

BACA JUGA : Jokowi Sebut Impor Obat Memboroskan Devisa Negara 

“Sehingga kehadiran Prodi Program Magister bisa andil memecahkan masalah mengatasi pandemi, dengan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di bidang farmasi,” katanya.

Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Suwarsono Muhammad menyatakan untuk membantu menangani persoaan Kesehatan, Prodi Magister Farmasi harus mengedepankan riset. Alasannya karena hanya dengan riset seorang akademi mampu memberikan sumbangsih.

“Sehingga harus memberikan peran lebih terhormat bagaimana memberikan sumbangan yang cukup untuk memilih jalur yang lebih positif. Kita tidak boleh memilih jalur pesimis, sekalipun pesimis itu bisa kita gunakan sebagai catatan kaki agar lebih berhati-hati,” katanya.