Kisah Pasien Isoman di Sleman 16 Jam Menunggu Mobil Jenazah

Sukarelawan menjemput jenazah Veronika Sunarsih, yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri, di sebuah perumahan wilayah Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (2/7/2021). - Istimewa
03 Juli 2021 08:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dedi Susanto hanya bisa mengelus dada. Selama dua pekan ia mengurus ibundanya, Veronika Sunarsih, 61, menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah dan ujungnya berakhir duka. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Kamis (1/7/2021) sore merupakan pertemuan terakhir Dedi dengan ibundanya. Sunarsih akhirnya mengembuskan napas di tempat tidur. Di sebuah rumah belakang Kampus STIE YKPN Seturan, Caturtunggal, Kapanewon, Depok, Sleman.

BACA JUGA: Selter Kalurahan di Sleman Masih Banyak Kosong

Sudah dua pekan terakhir Sunarsih berjuang melawan serangan virus Corona. Selama menjalani isoman, ia tak tersentuh pengobatan apapun. Kedua kakinya lumpuh dan tak bisa digerakkan. Kaki Sunarsih sudah layuh sebelum ia terpapar Corona.

Tak juga mendapat perawatan, napas Sunarsih semakin hari semakin berat. Saturasi oksigen di bawah normal. Ia mengalami hipoksia atau kurangnya kadar oksiden di jaringan tubuh.

Melihat kondisi ibunya kritis, Dedi tak berpangku tangan. Dedi berkali-kali mencoba menghubungi puskesmas hingga sukarelawan BPBD agar ibunya mendapat perawatan.

"Saat ibu saya kritis, saya hubungi puskesmas, BPBD untuk minta ambulans. Tapi semuanya penuh. Ada yang tanya hasil tes swab-nya. Padahal karena lumpuh, ibu saya belum sempat di-swab. Saya sendiri [pasien] positif," kata Dedi saat dihubungi Harian Jogja, Jumat (2/7/2021).

Lonjakan kasus Covid-19 di Sleman menyebabkan para tenaga medis dan sukarelawan kewalahan. Banyak permintaan pengiriman pasien dengan mobil-mobil ambulans sehingga pertolongan yang diharapkan Dedi tak jua datang.

Pukul 15.00 WIB, detak jantung Sunarsih tak lagi mampu berdetak di rongga dadanya.

BACA JUGA: Sultan Siapkan Sanksi Hukum untuk Pelanggar Aturan PPKM Darurat

Derita Dedi belum selesai. Ia terus mencoba meminta ambulans agar jenazah sang ibu dapat dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Lagi-lagi, tak ada ambulans atau mobil jenazah yang bisa melayani.

Pukul 10.00 WIB, Jumat (2/7/2021) atau 16 jam setelah kematian Sunarsih, sebuah mobil jenazah datang. Mobil jenazah Pemkot Jogja ini dikirim BPBD DIY untuk menjemput jenazah Sunarsih dan dikebumikan di TPU Keparakan, Mergangsan, Jogja.

Dedi mengaku penjemputan jenazah ibunya nyaris saja gagal karena terbentur prosedur. Dalam kondisi saat ini, baik pasien maupun jenazah penyintas Covid-19 yang dimakamkan harus memiliki dokumen resmi. Dokumen tersebut berisi pasien atau jenazah harus terbukti positif Covid-19. Baik melalui swab polymease chain reaction (PCR) maupun Antigen.

"Ibu saya memang belum sempat di-swab, belum dites. Namun gejalanya positif Covid-19. Saya merawat ibu, sudah satu pekan ini juga dinyatakan positif," katanya.

Dedi berharap aturan penanganan pasien Covid-19 tak terlalu berbelit-belit. Jika kondisi pasien memang tidak bisa berjalan, ia mengusulkan agar ada petugas yang datang mengambil sampel uji swab. "Saya rasa itu usulan saya, agar apa yang menimpa saya tidak terjadi pada orang lain. Tidak ada salahnya ada petugas yang jemput bola," ujar Dedi.

BACA JUGA: Varian Delta Bisa Menular dengan Berpapasan Dalam Kondisi Ini

Cerita lainnya berasal dari sukarelawan dari Komunitas Peduli Gajah Wong (KPGW) Papringan. Di bawah komando, Budi Wasono, alias Budi Dakir, sukarelawan KPGW Papringan menguburkan jenazah pasien Covid-19 di Caturtunggal.

Aksi kemanusiaan ini dilakukan mengingat jenazah meninggal dunia pada Kamis pagi, namun hingga sore belum ada yang berani menguburkan. Sementara sukarelawan dari BPBD sibuk melayani pemakaman jenazah lainnya.

"Iya pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Tinggal sehari selesai masa isolasinya eh meninggal. Sudah sepuh, usia 81 tahun," kata Budi.

Sore itu, Budi masih teringat bagaimana keluarga almarhum memohon agar jenazah dapat segera dikuburkan. Sebab antrean penguburan pasien Covid-19 lainnya masih panjang, sementara jenazah sudah meninggal sejak pagi. "Urutan ke 12 kalau tidak salah, meninggal pagi tapi hingga sore belum juga dikubur, warga juga tidak ada yang berani," ujar Budi.

Melihat kondisi itu, jiwa kerelawanan mereka muncul. Meski sukarelawan KPGW Papringan sudah biasa menguburkan jenazah, pengalaman mengubur jenazah penyintas Covid-19 baru pertama dilakukan. "Ya pada akhirnya kami berani [memakamkan] dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Ini pengalaman pertama kami," ujar Budi.

Di hari yang sama, kata Budi, sukarelawan terjun menguburkan jenazah lainnya. Selain di Santren, tim ini juga menguburkan jenazah di Padukuhan Tempel. Bedanya di Tempel, jenazah yang dikubur tidak memiliki gejala Covid-19. Untuk berjaga-jaga, sukarelawan tetap menguburkan jenazah sesuai dengan protokol kesehatan.

"Kedua jenazah itu memang bukan warga kami. Cuma karena didorong rasa kemanusiaan di situasi seperti ini, sebagai sukarelawan kami lakukan. Tekad dan mental kami jaga," katanya.

Meski bukan sukarelawan khusus penguburan jenazah penyintas Covid-19, Budi mengaku siap untuk membantu masyarakat. Hanya saja, kesiapan mereka juga diharapkan dapat didukung dengan alat pelindung diri (APD) dan obat-obatan yang memadai. "Kami hanya memiliki APD terbatas, begitu juga dengan kendaraan operasional," ujarnya.

BACA JUGA: PPKM Darurat 3–20 Juli, Masih Perlukah Subsidi Gaji?

Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto, mengakui kewalahan dengan banyaknya permintaan penguburan jenazah Covid-19.

Posko ini pun sempat ditutup pada Selasa (29/6/2021) pagi saat lonjakan permintaan tinggi. Hingga Jumat (2/7/2021) lonjakan kasus penyintas Covid-19 terus terjadi seperti tak terbendung. Data Satgas Covid-19 DIY menyebut, per Jumat (2/7/2021) jumlah pasien yang meninggal di Sleman sebanyak sembilan kasus.

Ssejak awal Juni terdapat 225 jenazah yang dimakamkan. Ini merupakan rekor baru karena melebihi pemakaman jenazah selama Januari 2021 sebanyak 131 jenazah. Permintaan pemakaman jenazah ini tidak hanya dari rumah sakit, tetapi juga warga.

"Kami siapkan tujuh regu pemakaman yang bekerja selama 24 jam. Kalau permintaan pemakaman tinggi tentu memengaruhi kondisi para sukarelawan," katanya.

Beruntung, saat ini mulai muncul sukarelawan dari kalurahan yang bisa membantu memakamkan jenazah penyintas Covid-19. Dari 86 kalurahan, kata Lilik, ia baru mengetahui ada tiga kalurahan di yang memiliki tim pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Ketiganya, berada di Kapanewon Berbah, Moyudan dan Tempel. Padahal, jika semua kalurahan memiliki tim pemakaman sendiri, tim BPBD Sleman tidak akan sampai kewalahan. "Untuk kondisi sukarelawan alhamdulillah baik. Kami sudah menerapkan SOP. Untuk menjaga kebugaran, vitamin selalu tersedia. Saat waktunya pulang, kami minta mereka tidak boleh mampir, langsung pulang ke rumah menunggu tugas selanjutnya," katanya.

Lilik berharap masyarakat ikut membantu dalam penanggulangan pandemi Covid-19 ini. Caranya, dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Itu yang kami harapkan. Masyarakat harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan. Sebab selama Juni ini kami sudah memakamkan lebih dari 225 jenazah. Sampai ganti bulan kemungkinan akan terus bertambah," ujar Lilik.