DIY Tambah 800 Tempat Tidur Khusus Pasien Covid-19, tapi Masih Kekurangan

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/7/2021). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
15 Juli 2021 18:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemda DIY berencana membuat sejumlah tempat untuk dijadikan rumah sakit darurat atau rumah sakit lapangan khusus pasien Covid-19. Dari sejumlah rumah sakit darurat tersebut diperkirakan dapat menampung sekitar 800 bed atau tempat tidur. Namun jumlah tersebut masih jauh dari target 2.000-3.000 tempat tidur jika melihat tren kasus penularan Covid-19 di DIY yang masih tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie mengatakan kondisi tempat tidur khusus pasien Covid-19 di 27 rumah sakit rujukan Covid-19 saat ini masih dalam kondisi mengkhawatirkan atau sudah di atas 95% dari total ketersediaan tempat tidurnya, sehingga butuh terobosan untuk menambah tempat tidur karena angka penularan Covid-19 masih belum melandai.

“Dengan keterisian tempat tidur khusus pasien Covid-19 di atas 95% pemerintah perbanyak tempat tidur untuk mengawal kasus Covid-19 [yang masih belum terkendali],” kata Pembajun, dalam jumpa pers secara virtual, Kamis (15/7/2021).

BACA JUGA: Waduh, Bantul Kekurangan Petugas Pengawas Pemotongan Hewan Kurban

Menurut Pembajun Pemda DIY sebenarnya sudah berupaya mendirikan tenda-tenda darurat di beberapa rumah sakit untuk mndekatkan pasien Covid-19 dengan pemberi pelayanan kesehatan disaat tempat tidur masih penuh. Cara tersebut diakuinya cukup efektif jika hanya untuk sesaaat, namun karena pandemi belum bisa diketahui kapan berakhir sehingga kondisi tenda darurat tidak memungkinkan lagi karena tenda darurat tidak seperti rumah sakit yang memenuhi dari sisi penyebaran infeksi penyakit maupun kontrol sanitasinya.

Maka dibutuhkan adanya rumah sakit darurat atau disebut rumah sakit lapangan. Pendirian rumah sakit lapangan juga, kata Pembajun, tidak mudah melainkan perlu peralatan maupun sumber daya manusia yang mumpuni. Rumah sakit darurat minimal seperti Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 di Bambanglipuro Bantul.

Sejumlah tempat calon rumah sakit lapangan saat ini tengah dipersiapkan oleh Pemda DIY, pemerintah kabupaten dan kota, serta Pemerintah Pusat. Beberapa tempat tersebut di antaranya adalah Hotel University Club (UC) UGM, wisma Kagama UGM, asrama Mahasiswa UNY, perumahan ASN Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO), Balai Diklat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rumah Sakit Medika Respati, serta Rusunawa Gemawang.

“Kurang lebih kapasitasnya dari [beberapa tempat bakal rumah sakit lapangan tersebut] total sekitar 800 tempat tidur,” ujar Pembajun. Selain itu Rumah Sakit Hardjolukito juga akan kembali menmabhah bednya sekitar 75 tempat tidur.

Untuk pengadaan tenaga medis di rumah sakit lapangan diakui Pembajun akan memanfaatkan rumah sakit yang ada, seperti UC UGM dan Kagama UGM akan memanfaatkan nakses dan peralatan dari Rumah Sakit Akademik UGM. Sementara Rumah Sakit Respati akan memanfaatkan nakes dan peralatan dari Rumah Sakit Prambanan. Sementara rumah sakit lapangan lainnya masih menunggu nakes dan peralatannya yang sedang diajukan kepada pemerintah pusat.

Rumah sakit lapangan nantinya akan dilengkapi peralatan medis, dokter, perawat, apoteker, radiografer serta petugas pengambilan sampel. Keberadaan rumah sakit lapangan ini penting, “Supaya pasien tak lagi di tenda tapi di ruangan yang memenuhi persyaratan baik penyebaran infeksinya terkendali, maupun sanitasinya juga terkontrol,” ujar Pembajun.