Duh... Selama PPKM Darurat Kerumunan Warga DIY Berpindah ke Permukiman

Petugas gabungan saat membubarkan kerumunan massa di JJLS, Sanden, Bantul, Sabtu (26/9/2020) malam. - Ist/ dok Satpol PP Bantul
20 Juli 2021 14:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemda DIY menyebut sudah ada penurunan mobilitas warga di tempat umum dan pusat perbelanjaan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di atas 20%. Namun kerumunan justru terjadi di permukiman, bahkan kerumunan di pemukiman warga meningkat sampai 19%.

“Hasil evaluasi kita [selama PPKM Darurat] sebetulnya agak memperihatinkan adalah mobilitas penduduk dalam perumahan justru ada kenaikan 19%,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Senin (19/7/2021).

BACA JUGA : PPKM Darurat 2 Pekan Belum Tekan Kasus Covid-19, Pemkot Dukung Perpanjangan

Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan data peningkatan mobilitas dan kerumunan di permukiman perumahan itu berdasarkan pantauan dari Google Traffick dan Facebook Mobility. Dia mengatakan  memang masyarakat tidak bepergian ke tempat umum atau tempat wisata, namun mereka tetap keluar rumah dan berkerumun di area permukiman.

Baskara Aji menyayangkan kerumunan masih terjadi dan membahayakan karena berpotensi terjadinya penularan Covid-19 dari klaster keluarga dan tetangga. Dia berharap jika masyarakat tidak ada keperluan mendesak untuk tidak keluar rumah dan berkerumun bersama tetangga.

Untuk mengantisipasinya kerumunan di permukiman pihaknya meminta Satgas Penanganan Covid-19 tingkat RT dan RW untuk saling mengawasi. “Kalaua ada keperluan mendesak harus pakai masker . Sebetulnya rahasia utama adalah pakai masker, kalau benar memakai maskernya dan sesuai standar bisa terhindar [dari penularan Covid-19,” ujar Baskara Aji.

BACA JUGA : Dampak PPKM Darurat, Pelaku Wisata Sulit Bayar Angsuran & Kian Terpuruk

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIY, Noviar Rahmad menambahkan semua sudah mengurangi mobiltas di tempat umum dan pusat perbelanjaan tetapi di lingkungan permukiman perumahan meningkat 19%.

Dia mengatakan peningkatan mobilitas dipermukiman karena banyak masyarakat yang melakukan Work From Home atau WFH. Kemudian anak-anak juga hampir semuanya belajar secara daring sehingga banyak yang bermain di lingkungan. Di sisi lain untuk mobilitas secara umum seperti tempat rekreasi, perkantoran dan lain-lain di DIY telah menurun hingga 20,1%.

Untuk menurunkan mobilitas di permukiman, Noviar akan memaksimalkan satgas di tingkat kelurahan.  “Ada Satgas tingkat kelurahan dan Satgas tingkat RT dan RW memantau langsung dan mengedukasi,” ujarnya,” kata Noviar.