Begini Cara Warga Jogja Saling Jaga Sesama

Warga sedang bertani di Kampung Ledok Tukangan beberapa waktu lalu. - Ist/Kampung Ledok Tukangan
18 Agustus 2021 10:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sejak awal pandemi Covid-19 masuk di Kota Jogja, masyarakat sudah saling bahu membahu menjaga sesama warga. Mulai dari pencegahan dengan gotong royong membeli disenfektan sampai mengumpulkan makanan dan kebutuhan lain untuk warga yang terpapar.

Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, warga telah banyak berkontribusi dengan caranya masing-masing. Saat ada yang isolasi mandiri contohnya, warga sekitar mengumpulkan uang dan mengolahkan makanan. Belum lagi aksi saling bagi sayuran.

Pertanian di tengah kota yang sebelum pandemi sudah ada juga cukup membantu. Dengan hasil panenan sendiri, kualitas sayur bisa lebih terjaga. Hal ini juga membantu mengurangi mobilitas warga agar tidak berpotensi tertular Covid-19. Sayur-sayur hasil pertanian kota, ditambah juga iuran antar warga juga sebagai penopang dapur balita dan lansia beroperasi. Saat ini sudah ada lebih dari 120 dapur lansia dan balita yang tersebar di Kota Jogja.

“Dengan dapur balita, asumsinya jangan sampai ada kasus stunting yang muncul di Kota Jogja selama pandemi Covid-19,” kata Heroe, Sabtu (14/8/2021).

Ketahanan Pangan dengan Bertani di Tengah Kota

Dalam menjaga ketahanan pangan, peran masyarakat yang terlibat dalam kelompok tani menjadi semakin vital di masa pandemi. Di Kelurahan Tegalrejo misalnya, saat ini sudah ada 17 kelompok tani. Mereka panen secara berkala yang kemudian dijual dan dibagikan kepada warga sekitar. Beberapa lahan pertanian di Tegalrejo sebelumnya area kumuh.

Menurut Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo, Agus Antariksa, pertanian tengah kota ini sebagai salah satu upaya menurunkan kasus stunting. “Sampai saat ini sudah ada 17 kelompok tani. Semoga wilayah lainnya bisa termotivasi memiliki pertanian di perkotaan seperti di Tegalrejo ini,” kata Agus.

Begitu pula yang terjadi di Ledok Tukangan, Tegalpanggung, Darurejan. Kelompok yang berisi lima perempuan mencoba memenuhi kebutuhan pangan keluarga dengan bertani. Mereka memanfaatkan lahan bekas sanggar yang ada di pinggir Kali Code.

Menurut salah satu penggagas Kebun Kali Code, Fitri Wahyu Widyaningsih, semua berawal dari keresahan harga sayuran yang tidak stabil. Sementara perekonomian selama pandemi kurang baik. Di sisi lain, kebutuhan gizi keluarga, terutama di masa pandemi merupakan hal penting.

“Kami belajar bertani dan kami praktikkan. Di masa seperti ini juga salah satu bentuk hiburan kami,” kata Fitri yang sebelumnya bekerja di bagian pemasaran sebuah cafe. “Kami tidak mau ketergantungan dan berharap dengan bantuan dari pemerintah, ingin mandiri pangan. Supaya nutrisi kami tercukupi tanpa harus membeli.”

Selter Mandiri Masyarakat

Heroe mengatakan ada 31 selter pasien Covid-19 yang berada di Kota Jogja. Selter ini ada yang berasal dari pemerintah, masyarakat, dan kolaborasi keduanya. “Ada yang menggunakan balai kelurahan, balai rukun warga, balai kampung, atau gedung lain yang ada di wilayahnya. Bahkan rumah yang besar milik masyarakat juga dibuat selter,” katanya.

Salah satu selter mandiri bentukan warga yang memanfaatkan rumah berada di Kelurahan Warungboto. Bernama Selter Mandiri Warungboto Tangguh, seluruh fasilitas dan pengelola berasal dari masyarakat sekitar, termasuk dokter yang bertanggung jawab dalam hal medis. Semua tersusun sesuai standar yang berlaku.

Pemilik rumah yang dijadikan shelter, Herdaru Manfa Luthfie mengatakan sejauh ini sudah ada 23 orang yang sudah sembuh dari shelter tersebut. Masih ada belasan yang menjalani isolasi. “Dalam keadaan seperti ini, jangan sampai saling memberatkan. Paling tidak saling meringankan misal tidak bisa saling menolong,” kata Luthfie.  

Selain itu, para relawan juga banyak bermunculan secara swasebada di masyarakat. Baik relawan pemulasaran, penyemprotan, sampai yang mengurusi warga isoman. Relawan bernama Satuan Tugas (Satgas) Sinergi Masyarakat Atasi Kerawanan (SIMAK) 24 di Rukun Warga (RW) 24 Kampung Mergangsan Kidul, Kelurahan Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Jogja salah satunya.

“Tidak hanya masalah Covid-19 saja, namun SIMAK berkembang membantu semua masalah terkait kerawanan,” kata Sekretaris Satgas SIMAK 24, Abdul Razaq. “Relawan juga rutin melakukan kunjungan dan doa bersama kepada warga isoman. Tidak hanya itu, relawan juga memberikan semangat serta mengingatkan untuk tetap menjalani prokes.”