Pengakuan Pembuat Mural & Grafiti di Jembatan Kewek: Apa Salahnya Rakyat Bersuara?

Seniman street art membuat mural di tembok jambatan Kleringan Kewek, Tegal Panggung, Kota Jogja, Senin (23/8/2021). Mural tersebut akhirnya ditutup dengan cat putih oleh Satpol PP Jogja karena dinilai provokatif dan melanggar perda. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
23 Agustus 2021 15:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Seorang pemuda yang menyebut namanya Bamsuck mengaku grafiti yang dihapus Satpol PP di Jembatan Kewek tersebut adalah karyanya. Dia bersama teman-temannya sengaja membuat grafiti tersebut sebagai bentuk kegelisahan yang dirasakan akhir-akhir ini.

Bamsuck bersama lima temannya membuat mural di Jembatan Kewek pada Sabtu, pekan lalu sekitar pukul 10.30 WIB. Mural tersebut bertuliskan Dibungkam dan Stop Represi.

BACA JUGA: Ratusan Transpuan dan Kelompok Rentan di DIY Disuntik Vaksin

Namun belum sampai 24 jam mural tersebut sudah tidak ada. Padahal untuk membuat mural tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu jam.

Geram dengan dihapusnya karya street art tersebut, Bamsuck kembali menuliskan grafiti di dinding yang sama pada Senin pagi bertuliskan Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas!.

Namun, grafiti hanya bertahan beberapa jam dan kembali dihapus oleh petugas. Dia merasa heran dengan petugas karena Jembatan Kewek selama ini dikenal sebagai media seniman jalanan atau street art.

“Itu kan aslinya kan tempatnya seniman Jogja berkarya, itu kan hanya karya kenapa belum sampai 24 jam dihapus? Itu engga masuk kriminal,” ujar Bamsuck.

Bamsuck mengatakan selama dia membuat mural di Jembatan Kewek baru kali ini dihapus oleh petugas. Dia tidak tahu alasannya. Padahal mural bagian dari suara para seniman mengungkapkan kegelisahannya. “Kami kan bersuara, kami rakyat berhak bersuara, apa salahnya rakyat bersuara?” ungkap Bamsuck. Dia meyakini semakin diberangus, mural akan semakin marak.